Oleh: balikpapannaa | Mei 7, 2010

Pilah Sampah Sejak di Rumah

Menanamkan kebiasaan yang baik haruslah sedini mungkin, begitu petuah bijak orangtua dulu. Dan itulah yang saya praktekkan sejak menjadi orang tua dari 2 anak lelaki yang sekarang sudah kelas 2 SD dan TK kecil. Terkadang capek juga sudah 2 minggu kerja terpisah jauh dari keluarga lalu inginnya memanfaatkan 2 minggu libur untuk bersantai dan menikmati hidup. Tapi apalah artinya hidup kalau kita bersantai sementara anak-anak kita berantakan hidupnya. Karena itu terkadang selama 2 minggu kerja jauh dari rumah saya berpikir keras untuk merancang proyek apa yang akan kerjakan kelak bersama istri dan anak-anak selama waktu libur saya.

Mengenai sampah, anak-anak saya sebenarnya sudah bisa dikatakan cukup mengerti dan mempraktekkan dengan baik untuk tidak membuang sampah sembarangan. Seringkali ketika kami mencuci dan menyetrika pakaian seragam mereka, kami menemukan bungkus permen di saku mereka. Kami tersenyum bangga dibuatnya, anak sekecil itu sudah tahu lebih memilih untuk menyimpan sampah di sakunya kalau tidak menemukan tempat sampah di dekatnya. Memang terkadang mereka bandel juga, namanya juga anak, tapi tampaknya mereka menunjukkan progres perkembangan yang lebih baik dalam hal disiplin membuang sampah ini.

Sekarang mereka juga mendapat tugas tambahan dari bundanya untuk membuang sampah di tempat pembuangan sampah sementara di mulut gang kampung kami. Jadi dari situ mereka tahu akibatnya bahwa semakin banyak sampah yang dihasilkan oleh mereka di rumah, berarti semakin berat pula sampah yang harus mereka angkat ke tempat pembuangan sementara tersebut. Dari situ mereka kemudian berpikir supaya sampahnya tidak terlalu berat, mengapa tidak dipilah-pilah saja dulu sehingga baru yang benar-benar tidak bisa terpakai yang harus mereka buang ke tempat pembuangan sementara. Tampaknya mereka sudah diajari oleh gurunya tentang sampah organik dan sampah non organik.

Akhirnya, sejak 2 bulan lalu saya sudah merancang proyek bersama untuk memulai memilah-milah sampah rumah kami. Ada 2 tempat sampah di rumah kami. Yang satu adalah sampah organik, biasanya sampah dari aktivitas makan dan memasak. Yang kedua adalah sampah non organik seperti kaleng, gelas, dan plastik-plastik yang kotor dan basah. Ternyata itu melatih kedisiplinan kami juga untuk membuang sampah berdasarkan kategorinya.

Ternyata pemilahan sampah berdasarkan 2 kategori itu kami amati belum cukup, masih banyak yang bisa kami kerjakan. Ini yang kami mau bagikan.

Untuk sampah organik, ada 2 hal yang dilakukan istri dan anak-anak. Yang pertama, biasanya istri akan memotong-motong sisa sayuran atau buah dalam bentuk kecil-kecil untuk dimasukkan ke pot-pot bunga dan tanaman kami sebagai pengganti tanah. Harap maklum, tanah untuk pot tanaman di Balikpapan cukup mahal, jadi terkadang kami menanam tanaman di pot dengan tanah hanya separuhnya, lalu di atasnya kami isi sisa-sisa sayuran tersebut lalu di atasnya ditimbuni lapisan tanah tipis lagi supaya terlihat rapi. Jadi jangan heran kalau tanaman hias kami besar-besar daunnya karena mendapat unsur hara dengan cara seperti itu.

Yang kedua adalah menjadikan sampah organik menjadi kompos. Makanya di samping rumah kami ada 2 pot besar dan 1 ember besar untuk membuat sampah. 2 pot yang besar digunakan untuk membuat kompos dengan menggunakan bibit mikroba pengurai sampah di dalamnya. Setiap ada sampah organik taruh saja di situ, beberapa minggu kemudian pastilah akan hancur terurai menjadi pupuk kompos. Sedangkan 1 ember besar itu untuk membuat kompos dengan cara konvensional. Taruh sampah di dalamnya, timbun dengan lapisan tanah tipis, begitu seterusnya sampai penuh lalu tutup sampai beberapa minggu kemudian berubah menjadi pupuk kompos. Dengan cara inilah kami memiliki pupuk untuk hobi kami memelihara tanaman hias dalam pot dan sayur-sayuran dalam polibag. Lumayanlah, kami sering memetik cabe, daun kemangi, seledri, kangkung atau caisim dari pekarangan sendiri. Ini sayuran organik lho.

Untuk sampah kertas, kami memutuskan untuk melakukan daur-ulang. Karena itu kami memiliki ember besar bekas cat tembok di mana untuk setiap sampah kertas harus dirobek-robek menjadi potongan kecil lalu dimasukkan di dalamnya. Begitu yang kami lakukan setiap hari. Bila sudah penuh, bersiaplah kami mendaur-ulangnya. Dan inilah proyek bersama kami yang ditunggu-tunggu. Di sinilah anak-anak kami libatkan untuk mem-blender bubur kertas tersebut lalu bersama-sama kami membuat lembaran-lembaran kertas daur-ulang lalu menjemurnya. Di sinilah keceriaan itu muncul. Si kecil yang membantu bundanya memblender. Kakaknya yang senang mengaduk-aduk bubur kertas karena teksturnya yang menggelikan tersebut. Lalu keceriaan saat kertas pun berhasil dibuat.

Sekarang kami sedang memikirkan bagaimana harus memperlakukan sampah plastik. Anak-anak kami meminta dibuatkan wadah dari karton bekas supaya bisa menaruh setiap sampah plastik di dalamnya. Dulu mereka tahu dari sebuah pameran bahwa ada pengrajin vas bunga dari plastik bekas yang mau membeli setiap sampah plastik dengan harga Rp 500,- per kilonya. Karena saya pikir bagus juga untuk melatih anak-anak berpikir bisnis sejak kecil, akhirnya saya membuatkan karton besar untuk mengumpulkan sampah plastik dari aktivitas rumah kami. Kalau sudah banyak nanti dijual dan uangnya bisa dipakai untuk menambah uang jajan maupun tabungan mereka.

Sekarang sampah plastik itu sudah mulai menumpuk di wadahnya tersebut. Dan sialnya, pengrajin tersebut tampaknya sudah tidak aktif lagi membeli sampah-sampah plastik sehingga anak-anak selalu bertanya-tanya kapan kami mengajak mereka menjual sampah plastik tersebut. Wah, saya pikir ini senjata makan tuan namanya. Bundanya juga sudah tidak sabar untuk membuangnya saja ke tempat pembuangan sementara atau malah memberikannya ke para pemulung yang jarang-jarang berkeliaran di Balikpapan ini.

Itu yang masih menjadi PR bagi kami. Kalau nanti benar usaha kerajinan itu sudah tutup, tampaknya kami akan memberikannya saja ke pemulung yang lewat depan rumah, lalu kami yang akan mengganti setiap kilo plastik anak-anak kami dengan Rp 500,- untuk penghargaan atas jerih payah dan usaha mereka itu.

Semoga setiap proyek bersama ini menempel terus ke dalam memori anak-anak kami sampai dewasa nanti. Dan begitu pula mereka akan melakukanya dengan cucu-cucu kami kelak.

Foto: koleksi pribadi

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 7 Mei 2010)


Responses

  1. Bapak Osa, tulisan dan kegiatan Bapak sekeluarga sangat inspiratif dan menggoda untuk ditiru.. saya ijin mencontoh yaa..🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: