Oleh: balikpapannaa | Oktober 1, 2009

FESTIVAL TAMAN BEKAPAI

Gonjang-ganjing isu klaim Malaysia atas tari Pendet, batik, keris, reog Ponorogo dan seni tradisi yang lain beberapa minggu yang lalu seharusnya menyadarkan kita bersama, entah pemerintah maupun masyarakat untuk kembali memperbaharui strategi berkebudayaan kita. Kita akui bahwa derap pembangunan ekonomi seringkali memunculkan efek samping yang menumpulkan cita, rasa dan karsa kita. Kita semakin bernafsu untuk mengumpulkan kekayaan sebesar mungkin, semakin menjadi individualis dan kita lupa bahwa ada kebutuhan batin yang harus dipenuhi, yaitu kebutuhan untuk berbudaya, untuk menampilkan ekspresi diri. Malaysia, kurang lebih juga menampilkan fenomena serupa. Mereka kaya secara fisik tapi miskin secara budaya sehingga tidak muncul kreatifitas yang dibangun atas ciri khas sendiri. Sebenarnya masalah seperti ini selalu diingatkan oleh para pendiri negara kita setiap kali kita menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, “bangunlah badannya…bangunlah jiwanya”.
Sekarang berbicara tentang isu lokal di Balikpapan. Disadari atau tidak Taman Bekapai sudah menjadi semacam ikon di Balikpapan, yang terus terang tidak saya jumpai di kota-kota lain yang pernah saya tinggali. Taman Bekapai menurut saya memang tidak hanya dirancang sebagai taman penghias kota saja, tapi juga menjalankan fungsi komunal, sebagai tempat di mana setiap warga bisa berkumpul bersama, bersenda gurau menikmati waktu dan kebersamaan. Kedua fungsi ini harus senantiasa dipelihara, tidak hanya oleh pemerintah kota tapi juga oleh masyarakat sendiri.
Lewat tulisan ini, saya ingin mengusulkan kepada pemerintah kota Balikpapan satu fungsi lagi untuk Taman Bekapai, yaitu sebagai fungsi budaya. Dengan arsitektur taman yang sedemikian indah, sebenarnya Taman Bekapai layak ditingkatkan fungsinya sebagai tempat bagi warga Balikpapan untuk menampilkan ekspresi kebudayaannya. Taman Bekapai bisa dijadikan semacam panggung tak resmi bagi setiap warga kota untuk berkesenian, untuk berkebudayaan.
Bayangkan, areal Taman bekapai sebagai panggung sudah lebih dari cukup, penonton juga sudah ada karena tempat ini selalu ramai dikunjungi warga, tempat juga cukup strategis karena ada di pusat keramaian, dekat dengan Mall dan juga hotel-hotel bintang 5 yang ramai dihuni oleh para warga asing. Tinggal menambahkan dengan adanya panitia atau komite (yang bisa terdiri dari unsur pemkot, kepolisian dan unsur masyarakat) juga aparat keamanan, lengkaplah sudah bagi kita untuk mengadakan Festival Taman Bekapai.
Untuk tahap pertama, Festival Taman Bekapai cukup diadakan sekali dalam seminggu, mungkin Jumat malam atau Sabtu malam. Bila festival ini mendapat respon semakin baik dari warga, bisa ditingkatkan frekuensinya. Lalu diusahakan saat festival lampu-lampu taman bisa dihidupkan, juga ditambahkan dengan sound system dengan volume suara yang tidak perlu setara dengan sebuah konser di stadion, cukup untuk menguasai areal taman.
Sebagai penampil kesenian kita bisa tampilkan secara swadana (artinya biaya yang muncul ditanggung sendiri oleh penampil, komite hanya menyediakan tempat, waktu dan fasilitas keamanan) berbagai macam kelompok kesenian di Balikpapan. Dalam daftar saya, kita bisa menampilkan musik dan tari dari masyarakat adat Dayak, tarian dan musik gamelan dari komunitas Jawa (baca: uyon-uyon), tarian dan musik tradisi dari komunitas Bali, tarian dan musik tradisi dari komunitas Bugis, tarian dan musik tradisi dari komunitas Banjar, kesenian reog dari komunitas Ponorogo atau Jawa Timur, kesenian Jaran Kepang, kesenian salawatan, kesenian kentrung, penampilan dari penyanyi jalanan dan penampilan dari klub sastra balikpapan semacam pembacaan cerpen atau puisi. Sesekali pemerintah kota bisa mengundang kesenian tari atau musik tradisi dari luar daerah seperti wayang kulit atau ludruk untuk memberikan variasi.
Terus terang sebagai penampil, Balikpapan sudah mempunyai lebih dari cukup. Di RT39 kelurahan Damai saja sudah ada kelompok kesenian Salawatan yang rutin berlatih setiap minggu. Lalu dari perusahaan Total saja kalau tidak salah ada klub gamelan, angklung dan paduan suara yang rajin berlatih dengan teratur. Belum lagi perusahaan sejenis yang lain, kantor-kantor dan juga sekolah-sekolah. Lebih dari cukup, tinggal niat baik dan semangat saja untuk tampil dalam festival ini.
Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam Festival Taman Bekapai ini, harus ada interaksi antara penampil dengan penonton. Festival ini bukan sekedar konser, tapi ajang penyadaran kebudayaan. Karena itu sebisa mungkin panggung harus menyatu dengan penonton dan ada sesi khusus untuk penonton memberikan pertanyaan, masukan dan apresiasi kepada penampil. Demikian pula penampil melalui juru bicaranya bisa berkesempatan untuk menanggapi, kalau perlu mengajak penonton untuk bermain bersama. Fungsi komunal pun tetap terjaga.
Balikpapan sebagai kota sudah bertumbuh sedemikian rupa seiring derasnya kedatangan para perantau seperti saya yang membawa adat, budaya dan kebiasaan sendiri yang kelak mungkin bisa merubah wajah dan kebiasaan baik kota Balikpapan. Mal-mal sudah banyak berdiri, tinggal menunggu waktu untuk merubah kebiasaan baik warga Balikpapan ke arah yang lebih konsumtif. Nah, kalau pemerintah kota lebih kreatif, kita arahkan energi warga Balikpapan ke arah yang lebih positif….salah satunya dengan ekspresi kebudayaan. Kita bisa duduk bersama untuk mewujudkan ide ini.

Osa Kurniawan Ilham.
Balikpapan, 18 September 2009.


Responses

  1. sebuah konsep yang cukup bagus untuk memberikan daya tarik masyarakat untuk datang ke balikpapan, ini bisa juga sebagai ajang untuk memperkenalkan berbagai kebudayaan indonesia kepada generasi muda yang sebagaian besar tidak tahu tentang kebudayaan bangsa sendiri. Dan jika banyak turis asing maupun lokal yang tertarik atau bahkan ketagihan untuk datang ke balikpapan maka ini bisa membuat lapangan pekerjaan bagi penduduk lokal tentunya. kalau hal semacam ini diterapkan di sebagian kota-kota di indonesia maka saya yakin proses bangsa ini untuk menjadi “negara maju” akan lebih cepat dan indonesia akan mempunyai ciri khas tersendiri di mata dunia international

    • Makasih hendric, sory baru balas.
      Gimana skripsinya ? sudah kelar-kah ?

      Salam,
      OsaKI

  2. Halo Mas Osa, salam kenal, setuju dgn tulisan mas di atas. Btw, saya ada info kompetisi gitar klasik dan konser gitar klasik tgl 28-29 Mei di Balikpapan, info lebih lanjut hubungi Deni di : 081254265152 atau Lily : 085654240582


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: