Oleh: balikpapannaa | Agustus 6, 2009

LECUTAN ENERGI DARI SARANG LASKAR PELANGI

Gairah itu muncul saat membaca artikel di Kompas edisi Minggu tanggal 2 Agustus 2009 kemarin. Saya turut merasakan energi yang terlecut dari artikel yang menulis bahwa Pulau Belitung, yang sekarang orang mengenal sebagai sarang laskar pelangi, akhirnya sekarang mulai berbenah dengan ekonomi yang mulai menggeliat ditandai dengan dibangunnya infrastruktur serta meningkatnya jumlah wisatawan domestik maupun asing. Masyarakat juga mulai tersadar bahwa mereka sebenarnya masih memiliki energi terpendam yang kalau ditangani dan dikembangkan dengan tepat akan membuat mereka tidak lagi bergantung melulu kepada sumber daya yang mulai sekarat, yaitu pertambangan timbah. Terima kasih Kompas, atas artikel yang menggairahkan ini.

Semuanya bermula dari novel Laskar Pelangi yang mencatat angka penjualan tertinggi dilanjutkan dengan film Laskar Pelangi yang juga mencatat jumlah penonton tertinggi. Jika di dalam novelnya pembaca hanya bisa melihat dalam tataran imajinasi suasana dan keadaan Pulau Belitung seperti yang ditulis oleh Andrea Hirata dalam untaian kata-katanya yang menarik, maka di filmnya penonton bisa menyaksikan secara visual suasana Pulau Belitung. Pantainya yang indah dengan batu-batu karang besar dan pasir putih yang menawan. Lingkungan rusak bekas pertambangan timah. Juga suasana eksotik di mana budaya Melayu menyatu dengan budaya Tionghoa. Maka ketika film tersebut diputar di berbagai festival di penjuru dunia, tak terelakkan film tersebut bagaikan promosi gratis bagi Pulau Belitung.

Jika Kompas mencatat fenomena serupa dengan Wellington – Selandia Baru yang terangkat karena film Lord of The Ring atau Mumbai – India dengan film Slumdogs Millionare. Saya ingin menambahkan gejala serupa di Salzburg – Austria yang melekat dengan ingatan orang akan film Sound of Music. Ketika berada di Wina, saya memaksakan diri untuk mengikuti tour ke Salzburg walau harus mengorbankan 45 Euro dengan perjalanan hampir 2 jam Wina – Salzburg. Salzburg beruntung, kota ini sudah melahirkan Mozart, sang komponis unggulan dan juga Doppler, sang Fisikawan penemu efek Doppler. Tapi kota ini lebih terkenal karena Sound of Music. Bahkan ada paket tour dengan judul “Tour Sound of Music” yang menawarkan kunjungan ke berbagai lokasi yang berhubungan dengan film tersebut, entah taman, entah rumah besar milik Sang Baron ataupun gazebo indah yang ditampilkan di film. Dari pendamping wisata yang sangat ramah, saya mendapat penjelasan sisi fiksi dan sisi nyata dari film tersebut, juga fakta bahwa anak-anak muda di kota tersebut sebenarnya tidak terlalu nge-fans dengan film tersebut karena jalan ceritanya yang jadul. Tapi karena film tersebut membawa berkah bagi ekonomi Salzburg, mereka berusaha menonton, mengerti jalan ceritanya supaya ketika wisatawan datang bertanya mereka bisa bisa menjawabnya.

Sudah ada paket tour Laskar Pelangi di Belitung. Seperti mendompleng kesuksesan novel dan filmnya, tapi menurut saya sah-sah saja kalau merujuk kepada pengalaman kota Salzburg. Walaupun pasti ada sisi fiksi dan nyata di novel dan filmnya, orang tidak akan peduli lagi karena ada gairah untuk mengetahui dengan mata kepala sendiri bagaimana jalan cerita itu terbentuk di kota aslinya. Seandainyapun gairah ingin tahu itu sudah terpuaskan, toh mereka masih punya uang untuk menikmati segala yang ada di Belitung, entah pantainya, entah masyarakatnya.

Sekarang pintar-pintarnya pemerintah Belitung untuk mengelola momentum ini. Awal yang bagus saat infrastruktur mulai ditata, semoga berlanjut ke sarana-sarana yang lain. Kalau pemerintah lokal dan masyarakatnya cerdik, sebenarnya banyak hal bisa diangkat sebagai paket wisata termasuk paket wisata di bekas tambang timah itu, dengan mengajak wisatawan menambang timah misalnya. Lalu buatlah secara berkala festival budaya lokal dengan nama Festival Laskar Pelangi misalnya. Dalam festival itu pengunjung dan masyarakat lokal bisa menikmati aneka budaya lokal yang dibawakan oleh suku-suku yang tinggal di sana. Banyak lagi ide yang lain.

Tapi ada satu catatan terakhir dari saya. Jangan kemaruk !!
Mentang-mentang Belitung sedang ketiban berkah Laskar Pelangi, lalu hotel-hotel besar dibangun dimana-mana sehingga masyarakat menjadi terpinggirkan, kawasan rawa yang masih asli dipermak sedemikian rupa sehingga hilang originalitasnya maupun gaya hidup masyarakatnya mulai berubah sehingga tidak menampakkan keaslian sebagai sebuah pulau sebagaimana yang ditulis di novel dan ditampilkan di filmnya. Jangan kemaruk, tahu kapan harus berbenah, kapan harus menahan diri karena siapa tahu energi yang muncul sekarang tidak akan pernah kembali lagi. Moga-moga, saya juga memiliki kesempatan untuk berkunjung ke sarang Laskar Pelangi ini.
(Osa Kurniawan Ilham – Balikpapan, 3 Agustus 2009)

(Tulisan ini saya ambil dari artikel saya di http://www.kompasiana.com tanggal 3 Agustus 2009)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: