Oleh: balikpapannaa | Agustus 6, 2009

ANGGREK CHANGI YANG MEMBUAT SAYA BERDOSA

Setiap kali saya tiba di Changi Airport Singapura selepas dari pemeriksaan petugas kedatangan, hati saya selalu menantikan saat untuk segera tiba di ujung ban berjalan. Di ujung itu, di terminal 1 ;kalau saya tidak salah ingat; memang layaknya mall besar yang semuanya layak untuk dinikmati, paling tidak untuk dipandang. Toko buku, butik, toko elektronika, toko coklat dan segala macam aneka rupa yang saudara-saudariku dari Indonesia sangat menikmati sekali, tampak dari tas plastik di tangan mereka yang penuh dengan barang belanjaan.
Tapi bukan itu yang selalu saya nantikan saat tiba di Changi Airport. Juga bukan perempuan Singapura yang manis kelihatannya atau yang ramah saat menyapa pelanggan tapi judes saat di luar jam kerja. Terus terang bukan itu. Di sana mata saya selalu merindukan sebuah taman anggrek di tengah-tengah terminal yang begitu menawan dan layak dinikmati. Sebuah taman anggrek beraneka warna dengan kolam berisi ikan koi yang indah bak sebuah oase bagi saya yang tidak bisa menikmati wisata belanja di sana. Lihatlah betapa indahnya bunga anggrek di sana, ada yang berwarna ungu, putih, kuning, hijau muda. Tampaknya taman itu selalu berbunga dengan lebat setiap kali saya ke sana, sesuatu karya yang mungkin sederhana bagi orang lain tapi telah berhasil membuat saya mengagumi siapapun yang telah berusaha keras mengusahakan dan menampilkannya. Bagi saya, taman itu adalah hasil sebuah kombinasi dari rasa seni, teknologi budidaya, arsitektur interior, semangat memberikan pelayanan terbaik, kemauan kuat dan bisnis, tentu saja.
Tapi taman anggrek di Changi itu selalu menggoda saya untuk berbuat dosa, karena terus terang selalu timbul rasa iri di hati saya setiap kali di sana. Saya merasa iri, kenapa aneka macam bunga anggrek yang begitu indah itu tidak bisa saya dinikmati di setiap bandar udara di negara saya Indonesia. Di Bandara Cengkareng Jakarta, taman eksteriornya memang indah tapi hanya terlihat dari dalam terminal kedatangan dan ruang tunggu keberangkatan. Kalau saya keluar dari terminal kedatangan, yang tertangkap mata hanyalah deretan mobil di daerah parkir daripada jajaran pohon dengan taman yang indah. Begitu pula dengan taman interiornya, kurang menarik dan merangsang mata untuk menikmatinya walaupun sekarang saya bersyukur di ruang tunggu keberangkatan sudah mulai ada deretan panjang bunga anggrek yang sayang warna bunga yang dipilih (ungu keputih-putihan) tidak terlalu mencolok mata karena terlihat mirip dengan warna interior terminal. Di Terminal-3 malah masih terlihat tandus dan gersang walaupun desainnya menganut konsep eco-green. Saya menemui pemandangan yang sama saat saya di Bandar Udara Juanda Surabaya, Sam Ratulangi di Manado maupun Adisucipto di Yogyakarta. Lebih parah lagi di Bandar Udara Sepinggan Balikpapan, kota dimana saya tinggal. Taman eksteriornya terlalu sedikit, lalu tidak ada taman interior selain jajaran bunga anggrek yang ternyata kalau diamati adalah anggrek plastik, padahal dulu saya berpikir Kalimantan adalah surganya anggrek.
Sebenarnya hal yang serupa tidak hanya saya temui di bandara-bandara di negara saya sendiri. Saat saya di bandara Swarnabhumi – Bangkok, Charles de Gaulle – Paris, Fort de Worth – Dallas, Narita – Tokyo maupun bandara di Barcelona atau di Girona sekalipun saya menemukan pemandangan dan perasaan yang sama. Rasa kagum hanya muncul karena desain arsitekturnya yang megah, modern dan canggih, tidak lebih dari itu. Di sana saya tidak mendapatkan perasaan yang sama sebagaimana saat saya ada di taman anggrek Changi itu.
Pertanyaannya kenapa kita yang mengaku surganya bunga, surganya anggrek, tidak mampu menampilkan surga itu di bandar-bandar udara kita ? Seperti yang saya tulis di atas, kita bisa melakukan yang sama dengan bandara Changi bila kita juga memiliki rasa seni, teknologi budidaya, arsitektur interior, semangat memberikan pelayanan terbaik, kemauan kuat dan bisnis. Saya pikir kita memiliki modal itu semua, apanya yang kurang ? Niat dan kemauan kuat ? Mungkin. Butuh biaya yang besar ? mungkin ya. Tapi tidak masuk akal kalau Angkasa Pura selaku satu-satunya pengelola bandar udara di Indonesia tidak memiliki uang untuk membuat taman yang bisa menarik para pelanggannya untuk bisa berlama-lama menikmati suasana di sana.
Menurut saya, kalaupun tidak punya uang masih banyak jalan yang bisa dicoba oleh Angkasa Pura, asal ada niat dan kreativitas. Kenapa tidak mencobanya dengan menjalin kerjasama dengan IPB misalnya untuk membuat taman anggrek yang bisa selalu berbunga walupun di dalam ruangan. Atau kalau itu memberatkan, kenapa tidak mencoba untuk menyewa saja tanaman-tanaman dari para tukang taman yang banyak tersebar di seluruh kota. Kalau seandainya benar-benar tidak punya uang, kenapa tidak mencobanya dengan mengundang para pengusaha taman untuk bergantian mengadakan pameran bunga dan tanaman di areal dalam bandar udara. Bahkan kalau perlu mereka bisa membuat taman di areal dalam bandara (terutama di terminal kedatangan) dan sekaligus bisa menjual bunga atau tanaman kepada para pengunjung yang menginginkannya. Tidak perlu takut bandara akan jorok asal ditata, dirawat dan dikelola dengan profesional, malah Angkasa Pura bisa mendapatkan pemasukan ekstra dari “taman-taman” dalam ruangan ini. Saya membayangkan kelak akan banyak para penumpang yang keluar dari terminal kedatangan dengan membawa bunga atau sekedar tanaman untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh untuk keluarga atau kekasihnya, maupun sekedar untuk ditanam di rumahnya.Sebagai catatan terakhir untuk pengelola bandar udara di Indonesia, kita tidak mungkin akan bertarung dengan negara-negara lain untuk membuat bandara-bandara yang lebih megah, lebih modern dan lebih canggih karena bagaimanapun juga itu membutuhkan biaya yang jauh lebih besar. Tapi dengan sentuhan yang artistik, kreatif, inovatif seperti taman di Changi itu, percayalah bahwa uang dari para pelanggan tidak akan menjauhi anda.
(Tulisan ini saya ambil dari artikel saya di http://www.kompasiana.com tanggal1 Aug 2009)


Responses

  1. aku suka tulisannya ayah tapi udah gak nulis lagi
    Salam,

    Laksmana Kinasih Providentia Dei


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: