Oleh: balikpapannaa | Juli 16, 2014

Belajar Membatik di Balikpapan

Terus terang, batik adalah favorit saya selama ini. Hampir semua kemeja saya adalah kemeja bermotif batik. Demikian juga istri dan anak-anak saya. Dan kami mengenakannya hampir di semua acara, resmi atau tidak resmi, baik saat kerja, sekolah, maupun saat hanya ke mal untuk sekedar jalan-jalan melepas kejenuhan. Itulah batik, warisan nenek moyang kita yang adi luhungnya masih menyebarkan auranya sampai sekarang.

Nah, sudah menjadi hal umum kalau Anda menjumpai kain batik di Jawa. Tapi kalau di Balikpapan ? Reportase ini akan melaporkannya untuk Anda.

Tahukah Anda bahwa Balikpapan juga mempunyai ciri khas motif batik ? Kekayaan budaya Dayak sangat menginspirasi motif batik di sini, berupa motif sulur-suluran khas Dayak seperti yang juga dapat kita lihat di beberapa ukiran maupun tato khas Dayak. Jadi kalau Anda pernah melihat kemeja batik dengan motif Dayak seperti ini, siapa tahu itu dari Balikpapan.

Di Balikpapan, setiap sekolah baik guru maupun muridnya diwajibkan mengenakan kain batik motif Dayak ini setiap hari Kamis. Motif batiknya berbeda-beda, tergantung desain motif yang diseragamkan oleh pihak sekolah. Pemkot Balikpapan mewajibkan hal ini untuk memperkenalkan sekaligus meningkatkan kecintaan anak-anak Balikpapan kepada kain batik.

Yang membuat saya heran sekaligus kagum adalah ternyata terdapat perusahaan kerajinan batik di Balikpapan. Namanya adalah Batik SHAHO, terletak di Somber Balikpapan barat. Nama perusahaan ini adalah singkatan dari nama para pemiliknya, yang bermigrasi ke Balikpapan dari kota Magelang Jawa Tengah puluhan tahun yang lalu. Pengalaman menjadi karyawan perusahaan batik di Yogyakarta membuat sang pemilik percaya diri untuk membuka usaha batik di kota Balikpapan. Hasilnya lumayan, perusahaan ini memiliki pangsa pasar yang cukup besar karena sudah sekian tahun menjalin kemitraan dengan semua sekolah, instansi dan kantor di Balikpapan untuk menyuplai kemeja seragam motif batik.

Hebatnya, usaha batik ini juga menyelenggarakan kursus membatik untuk memasyarakatkan kesenian batik kepada warga Balikpapan. Ada beberapa jenis kursus yang disediakan. Anda bisa datang sekali untuk belajar membatik di atas potongan kain seukuran sapu tangan. Atau Anda mengikuti kursus untuk 3 atau 4 kali pertemuan dengan harga yang menurut saya relatif murah untuk ukuran Balikpapan. Di sini Anda bisa belajar membatik menggunakan canting malam, atau langsung belajar mewarnai motif batik yang sudah disiapkan di atas kain sapu tangan. Lalu Anda juga bisa belajar bagaimana mengolah hasil karya ini sampai kemudian menjadi karya seni yang membanggakan Anda.

Bulan Maret kemarin, anak saya beserta teman-teman sekelasnya berkunjung ke Batik Shaho untuk belajar membatik. Sebagai ayah yang baik (ehm….ehm…memuji diri sendiri nih he..he…) saya juga ikut ke sana, biasalah sebagai tukang angkut-angkut untuk membawakan air mineral dan makanan ringan bagi anak-anak sekolah tersebut.

Sesampai di sana, kami disambut oleh bapak dan ibu pemilik usaha batik. Setelah menyampaikan beberapa hal yang perlu diketahui oleh anak-anak, akhirnya mereka semua dipersilakan untuk mencari kainnya masing-masing yang sudah disediakan untuk mereka. Kain ini sudah dipersiapkan motifnya dengan canting lilin yang sudah dibuat oleh batik Shaho. Anak-anak tinggal mewarnai dengan cat warna yang sudah tersedia di meja masing-masing. Anak-anak tampak bergembira dan menikmati aktivitasnya itu.

DSCN3928

DSCN3934

Melihat anak-anak yang sangat bergembira itu, akhirnya saya juga tertarik untuk turut belajar membatik juga. Lalu saya meminta sebuah kain untuk kemudian dibatik menggunakan canting malam. Kemudian bersiaplah saya untuk mewarnainya.

Anak-anak ternyata cukup cepat mewarnainya sehingga mereka pulang lebih dulu meninggalkan saya yang masih asyik mewarnai kain saya. Lihatlah betapa indahnya kain-kain batik hasil karya anak-anak tersebut. Ini adalah kain-kain batik yang siap dijemur untuk diolah dalam proses selanjutnya.

Dan ini adalah hasil karya mereka setelah diolah.

DSCN3938

DSCN4055

Kemudian selesailah juga saya mengerjakan kain batik saya. Saya memanfaatkan kesempatan itu untuk mengobrol banyak dengan sang pemilik usaha. Akhirnya saya bisa tahu banyak bagaimana membuat film untuk batik cetak, lalu proses pengolahan untuk menghilangkan lilin, mengawetkan warna dan motif, penjemuran sampai penyetrikaan untuk kemudian dijual ke pasar.

Kalau Anda ingin mencari batik motif Dayak, silakan datang ke Kebun Sayur Balikpapan. Mbak Ary Amhir pernah menulis tentang pasar suvenir ini dalam reportasenya, silakan berkunjung di sini. Batik motif Dayak di sana harganya cukup bervariasi, Anda bisa memilih sesuai kualitas kain yang Anda inginkan. Dari bincang-bincang, batik Shaho ternyata tidak menyuplai kain ke pasar suvenirnya, alasannya karena masih kekurangan modal. Mereka hanya fokus untuk memenuhi kebutuhan sekolah dan institusi di Balikpapan dan sekitarnya. Sementara permintaan pasar suvenir dipenuhi oleh perusahaan-perusahaan batik dari Jawa, seperti dari Pekalongan, Solo maupun Yogyakarta.

Akhirnya selesai sudah kunjungan saya ke perusahaan batik ini. Lumayanlah pengetahuan baru saya pada hari itu. Akhirnya saya bisa membatik juga hari itu. Agak ironis memang, saya yang berasal dari Jawa, ternyata malah berkesempatan belajar membatik di tanah seberang, yaitu di Balikpapan. Itulah hidup.

Eh….ngomong-ngomong, Anda penasaran dengan kain batik hasil karya saya ? Inilah master piece saya pada saat belajar membatik hari itu he..he…

DSCN4120

Foto: koleksi pribadi

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 4 Mei 2010)

Iklan
Oleh: balikpapannaa | Juli 16, 2014

Romantisme Budaya Jawa di Balikpapan

Berikut ini adalah tulisan ke-2 dari reportase mengenai acara Kampoeng Seni memperingati Ulang Tahun Balikpapan ke 113 bulan Februari yang lalu.

Sebagai seorang perantau di tanah seberang, tentu menjadi kenikmatan tersendiri bisa melihat dari dekat budaya sendiri yang sudah lama tidak ditonton. Demikian juga dengan komunitas Jawa di kota Balikpapan sini. Dalam beberapa kesempatan, komunitas Jawa mengadakan hajatan dengan menggelar pertunjukan wayang kulit. Dan acara seperti ini selalu ramai didatangi oleh ratusan bahkan ribuan perantau dari Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Bagi mereka, menikmati wayang kulit di Kalimantan seperti sebuah romantisme, sebuah simbolik mengenai kerinduan mereka terhadap kampung halaman yang harus ditinggalkan demi mencari penghidupan yang lebih baik.

Saat acara Kampoeng Seni, komunitas Jawa menggelar pertunjukan Jaranan atau Jaran Kepang. Ketika gamelan sebagai musik pengiring dimainkan, terasa hati terbang mengarungi Laut Jawa kembali ke Kediri, tempat kesenian Jaranan berasal. Ternyata komunitas Jawa di Balikpapan ini masih menjaga warisan budaya ini. Lihatlah para niyaga yang bersemangat menabuh gamelan. Juga sang pemimpin yang dengan wajah angkernya berusaha menguasai suasana pergelaran.

DSCN3781

Akhirnya acarapun dimulai. Diawali dengan tampilnya beberapa anak yang menarikan tari jaran kepang. Di bawah sinar matahari yang terik mereka begitu bersemangat menari dikelilingi oleh ratusan penonton yang mengerumuni mereka. Lengkap sudah suasana Jawa dihadirkan di sini.

DSCN3782

DSCN3786

Sayang, anak-anak sudah merasakan kepanasan juga kelaparan. Kami pun terpaksa pulang meninggalkan pertunjukan yang sebenarnya sayang untuk dilewatkan itu.

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 9 April 2010)

Oleh: balikpapannaa | Juli 16, 2014

Berlatih Senjata Sumpit Suku Dayak

Hampir 5 tahun sudah saya tinggal di Balikpapan. Obsesi saya sejak bermigrasi ke sini adalah untuk menikmati interaksi dengan kehidupan budaya Suku Dayak. Dan itu cukup sulit, karena faktanya Suku Dayak bukanlah mayoritas di kota Balikpapan sini. Suku Dayak Pasir sebagai penduduk asli wilayah Balikpapan memang sudah lama tidak bermukim di wilayah pantai, mereka bermigrasi ke wilayah pedalaman digantikan oleh suku-suku lain yang memang berkarakter sebagai penduduk pesisir. Kalau mau menikmati interaksi dengan komunitas Dayak, kita harus pergi ke wilayah utara, di daerah Loa Janan (wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara), Bontang atau malah ke hulu Sungai Mahakam sekalian untuk bersilaturahmi dengan komunitas Suku Dayak Kenyah. Dan itu perlu biaya tinggi dan waktu yang lumayan panjang (paling tidak seminggu) karena harus menyewa kapal dan beberapa perahu untuk bisa sampai ke hulu Mahakam. Mungkin suatu kali kelak rekan-rekan Kompasioner ada yang tertarik bersama saya untuk menjalankan ekspedisi tersebut ?

Bersyukurlah bahwa rekan-rekan dari Suku Dayak di Balikpapan masih bersemangat melestarikan tradisi dan budaya Dayak di kota ini. Beberapa perusahaan asing di sini juga bersemangat untuk mengundang komunitas Dayak dalam beberapa pergelaran budaya yang mereka selenggarakan. Berdasarkan penuturan seorang sesepuh Dayak, beberapa anak muda Dayak masih bersemangat untuk berkumpul di Dewan Kesenian Balikpapan untuk melatih diri berkesenian secara rutin.

Akhirnya saat yang kami nantikan muncul juga. Untuk merayakan ulang tahun Balikpapan ke 113, pada tanggal 21 Februari 2010 diadakan acara Kampoeng Seni di areal Monumen Perjuangan Rakyat Balikpapan. Beberapa acara seni termasuk festival band, lomba baca puisi, lomba melukis keramik diadakan. Dan yang istimewa, panitia melibatkan komunitas Dayak dan Jawa untuk mempertunjukkan tradisi budayanya. Khusus untuk tulisan pertama ini saya akan melaporkan mengenai tradisi Dayak di acara Kampoeng Seni ini, moga-moga di tulisan berikutnya saya bisa menuliskan tentang pergelaran seni tradisi dari komunitas Jawa.

Pergelaran pertama yang ditampilkan pada hari Minggu yang terik saat itu adalah sendratari mengenai legenda Suku Dayak Beliaq yang sangat menarik. Menampilkan tarian dikombinasikan dengan permainan senjata mandau, anak-anak muda Dayak ini terlihat begitu bersemangat. Terus terang saya kurang mengerti alur ceritanya he..he…harap maklum karena saat sang MC menjelaskan alur ceritanya saya dimintai tolong isteri tercinta untuk mengambil payung yang sangat dibutuhkannya menghadapi matahari yang terik saat itu.

Babak pertama dari sendratari ini dimulai dengan adegan saat beberapa pria Dayak berlatih perang dengan menggunakan Mandau. Beberapa kali ada adegan melempar mandau di antara para pemain, sangat berbahaya kalau meleset sehingga para penonton diminta mundur agak menjauh dari panggung.

DSCN3761

Adegan berikutnya adalah saat beberapa gadis menari dengan indahnya. Bahkan di beberapa adegannya mereka menari di atas nampan yang ada pecahan beling di dalamnya. Tapi kakinya tetap tidak berdarah.

Adegan selanjutnya mulai menuju klimaksnya. Suasana magis dibangun dengan munculnya para sesepuh Dayak di tepi panggung, lengkap dengan topeng khas Dayak dan juga tombaknya. Ternyata itu adegan perang yang seru antar 2 satria, yang berakhir kematian salah seorang di antaranya. Yang menarik, jenasah satria yang tewas dalam pertempuran ditempatkan di atas daun nipah kering lengkap dengan durinya yang tajam. Cerita kemudian diakhiri dengan hidup kembalinya satria yang sudah tewas tersebut. Menarik bahwa punggung sang pemain tidak terluka atau berdarah sedikitpun walau sudah rebah di atas duri nipah yang tajam. Sendratari pun berakhir dengan tepuk tangan meriah dari para penonton, termasuk saya dan anak-anak.

DSCN3760

DSCN3762

Selanjutnya kami menikmati tradisi Dayak di stand komunitas adat dayak. Terdengarlah alunan khas musik dari sebuah kecapi Dayak yang dimainkan. Kami juga bisa melihat dari dekat topeng adat Dayak yang menyimpan kesan misteri itu. Untuk menjaga respek dan hormat kepada tradisi Dayak, beberapa penonton diminta untuk tidak berdiri membelakangi topeng tersebut. Entah kenapa.

Juga ditampilkan tarian Dayak dengan mengenakan topeng tersebut. tarian yang patah-patah, diiringi dengan alunan kecapi yang khas memberikan aroma magis pada tarian tersebut.

Yang terakhir dan ini puncak pengalaman kami hari itu. Sang sesepuh adat Dayak mengumumkan bahwa dibuka kesempatan untuk berlatih menggunakan senjata sumpit Dayak dengan sasaran sejauh 15 meter. Perlu beberapa menit bagi sang sesepuh mengundang khalayak untuk mencobanya, tapi tidak ada seorangpun yang berani mencoba. Tampaknya mereka agak takut dan segan mengingat mitos Dayak yang magis tersebut.

Akhirnya saya memulai dengan menjadi yang pertama mencobanya. Salah seorang tetua adat memberikan sumpitnya ke saya, cukup berat juga terbuat dari kayu berlubang dengan panjang kira-kira 1,5 meter. Sang tetua bilang, masukkan anak sumpit ke dalam, bidik sasaran di depan, pakailah nafas perut untuk menghembuskan anak sumpit itu. Tak disangka, anak sumpit melesat dengan cepat ke sasaran. Pada latihan yang keempat, anak sumpit saya sudah berhasil mencapai poin 9 dari sasaran tembaknya. Lumayanlah untuk seorang pemula seperti saya he..he…

DSCN3770

Isteri saya kemudian juga tidak tahan untuk mencobanya. Walaupun perempuan, ternyata anak sumpit yang ditiupkan isteri bisa mencapai 15 meter juga walaupun tidak mengenai tepat di sasaran.

DSCN3777

Sang tetua adat berkata kalau di kondisi sebenarnya, sumpit bisa digunakan untuk menembak sampai jarak 50 meter. Dan itupun bisa menewaskan binatang buruan. Saya respek dengan tradisi ini. Saya jadi mengerti kenapa bagi seorang anggota marinir, Kopasus ataupun Tontaipur menggunakan senjata sumpit adalah salah satu ketrampilan yang harus dikuasai. Bayangkan, dalam kesenyapan mereka bisa membunuh musuh dengan sumpit ini.

Saya bersyukur bisa berlatih menggunakan sumpit hari itu. Pengalaman yang jarang bisa datang dua kali.

 

Foto:
Koleksi pribadi

 

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 6 April 2010)

 

Oleh: balikpapannaa | Juli 16, 2014

Peringatan Hari Aksara Internasional ke 45 di Balikpapan

Hari Jumat kemarin anak saya yang masih duduk di TK Kelas B pulang sambil membawa surat dari gurunya. Ternyata surat itu memberitahukan bahwa anak saya dipilih untuk menjadi salah satu dari 10-an duta atau utusan dari sekolah untuk menghadiri Upacara Peringatan Hari Aksara Internasional di Gedung Dome Balikpapan. Kami menelpon gurunya dan diberitahu bahwa pihak sekolah juga tidak tahu persis acaranya apa di sana, biasanya sih ada lomba-lomba. Kami menyadari kemungkinan pihak sekolah menerima surat edaran dari panitia peringatan untuk mengirim utusan ke acara tersebut. Karena itulah untuk mendidik anak kami menghormati gurunya, akhirnya kami memutuskan untuk besok mengantar anak kami menghadiri undangan tersebut.

Hari Sabtu tanggal 9 Oktober 2010 kemarin akhirnya saya mengantar anak saya ke acara tersebut, beberapa menit sebelum jam 10.00 sampailah kami ke tempat acara. Sudah ada beberapa anak yang berbaris di sana, mereka juga utusan dari sekolah-sekolah TK di Balikpapan. Di tengah cuaca yang tidak begitu panas tapi dengan kondisi yang begitu lembab membuat keringat terus mengalir membasahi pakaian termasuk anak-anak kami tersebut.

DSCN4504

DSCN4514

Saya belum menyadari apa yang terjadi. Lalu saya mencoba melihat situasi sekitar barisan anak-anak TK itu. Ternyata 30 meter dari barisan anak-anak itu terdapat sebuah tenda di mana ada panggung pula di dalamnya. O, ternyata itu adalah upacara peresmian peringatan Hari Aksara Internasional ke 45, yang ternyata peringatan secara nasionalnya dipusatkan di Balikpapan.

Acara itu acara dihadiri oleh seratusan orang, termasuk wakil Gubernur Kalimantan Timur dan Walikota Balikpapan. MC-nya lumayan mahal harganya karena diimpor dari Jakarta yaitu Dewi Hughes. Seperti biasa acara di Indonesia, pastilah dipenuhi dengan pidato yang berbual-bual dari mulut sang pejabat. Dan acara hari itu juga dipenuhi dengan pidato yang berbusa-busa dari Ketua Panitia, dari pejabat Ditjen Pembinaan Pendidikan Formal dan Informal Depdiknas lalu ditutup oleh Wakil Gubernur yang kemudian memukul gong sebagai tanda peresmian pameran dan peringatan. Satu hal yang saya ingat dari pejabat Depdiknas, katanya ada 8,7 juta buta aksara di Indonesia yang harus segera ditolong untuk keluar dari kebutaannya itu.

Saat Wakil Gubernur mau memukul gong, barisan anak-anak TK dan SD (termasuk anak saya) lalu diatur sedemikian rupa untuk memberi jalan kepada sang pejabat itu lewat untuk memotong pita peresmian pembukaan pameran. Oooo…….saya baru tahu, ternyata anak-anak kita yang masih kecil itu hanya dimanfaatkan oleh panitia peringatan untuk memberi kesan bahwa acara hari Sabtu itu memang sangat-sangat meriah.

DSCN4510

Benar saja. Lihatlah bagaimana riuh rendahnya anak-anak saat berebut ingin masuk arena pameran. Mereka ditahan oleh para petugas keamanan karena memberi kesempatan pada para pejabat itu untuk mengunjungi stand-satnd lebih dulu. Jadi bisa dibayangkan bagaimana berjubelnya anak-anak itu menunggu sang pejabat keluar dari arena pameran supaya mereka bisa masuk juga.

Saya sudah tidak tertarik lagi dengan suasana seperti itu. Hanya untuk menjaga perasaan anak saya, saya ajak dia untuk berkeliling pameran sebentar sebelum pulang. Banyak brosur-brosur, buku dan majalah serta sticker yang dipamerkan. Dan namanya anak-anak; apalagi ini Peringatan Hari Aksara; mereka berebutan untuk mengambil beberapa buku dan brosur juga sticker. Saya sudah menebak, mereka dimarahi habis-habisan sama penjaga stand-nya yang kemudian melarang mereka mengambil barang-barang itu. Alasannya, nanti saja kalau para pejabat sudah pulang. Untung, sebelumnya saya sudah mengambil beberapa buku dan brosur yang menarik untuk dibaca anak saya.

Satu hal yang membuat saya senang adalah saya melihat minat baca anak-anak Balikpapan sudah mulai naik. Lihat saja bagaimana mobil perpustakaan ini diserbu habis oleh anak-anak. Anak-anak sekolah itu juga sangat antusias melihat stand-stand pameran yang walaupun menurut saya sangat-sangat sederhana untuk ukura acara sekelas nasional ini. Satu yang berkesan lagi adalah stand Direktoral jenderal pendidikan non-formal and informal. Bukunya bagus-bagus, semoga saja benar buku-buku itu disebarkan di seluruh pelosok Indonesia, tidak hanya di kota-kota besar saja.

Akhirnya kami pun pulang meninggalkan acara yang tidak berkesan sama sekali itu. Di dalam perjalanan pulang saya bertanya kepada anak saya apakah dia senang di acara tadi. Bisa ditebak dia menjawab, “Nggak enak, Ayah. Panas.”

Ini yang kedua kalinya anak saya mendapat pengalaman buruk dengan para pejabat. Waktu peringatan Hari Pendidikan 2 Mei 2010 yang lalu anak saya juga mendapat pengalaman yang buruk. Saat itu dia menjadi utusan TK-nya untuk mengikuti lomba mewarnai. Tapi sayang, selain diganggu hujan para peserta anak-anak itu harus mengalah dengan duduk menjemukan lebih dari 1 jam hanya untuk menunggu sang pejabat yang terlambat datang untuk membuka acara lomba.

Jadi perkara ini yang diajarkan para pejabat dan panitia itu kepada anak-anak kami hari itu:
1. Kalau ada acara-acara seperti ini, kerahkan saja anak-anak sekolah kita sehingga acara akan terlihat ramai dan meriah. Tidak peduli kalau itu berarti mengurangi jam belajar maupun jam istirahat mereka.
2. Anak-anak lebih mudah dieksploitasi karena mereka tidak protes manakala disuruh untuk berpanas-panas ria sementara para pejabat itu duduk di tempat dingin dengan manisnya.
3. Jangan pedulikan perasaan para guru yang sebenarnya pasti malu kepada para orang tua dengan kejadian itu. Dengan taat mereka hanya bisa menjalankan perintah dari instansi di atasnya.
4. Jadi pejabat itu memang enak, karena itu jangan mau jadi orang kecil.

Moga-moga saya bisa menetralisir pengaruh buruk para pejabat itu kepada pikiran anak saya. Soalnya kalau anak-anak kita mewarisi hal semacam ini, alangkah tambah celakanya negara ini ke depannya.

 

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 11 Oktober 2010)

 

Oleh: balikpapannaa | Mei 7, 2010

Pilah Sampah Sejak di Rumah

Menanamkan kebiasaan yang baik haruslah sedini mungkin, begitu petuah bijak orangtua dulu. Dan itulah yang saya praktekkan sejak menjadi orang tua dari 2 anak lelaki yang sekarang sudah kelas 2 SD dan TK kecil. Terkadang capek juga sudah 2 minggu kerja terpisah jauh dari keluarga lalu inginnya memanfaatkan 2 minggu libur untuk bersantai dan menikmati hidup. Tapi apalah artinya hidup kalau kita bersantai sementara anak-anak kita berantakan hidupnya. Karena itu terkadang selama 2 minggu kerja jauh dari rumah saya berpikir keras untuk merancang proyek apa yang akan kerjakan kelak bersama istri dan anak-anak selama waktu libur saya.

Mengenai sampah, anak-anak saya sebenarnya sudah bisa dikatakan cukup mengerti dan mempraktekkan dengan baik untuk tidak membuang sampah sembarangan. Seringkali ketika kami mencuci dan menyetrika pakaian seragam mereka, kami menemukan bungkus permen di saku mereka. Kami tersenyum bangga dibuatnya, anak sekecil itu sudah tahu lebih memilih untuk menyimpan sampah di sakunya kalau tidak menemukan tempat sampah di dekatnya. Memang terkadang mereka bandel juga, namanya juga anak, tapi tampaknya mereka menunjukkan progres perkembangan yang lebih baik dalam hal disiplin membuang sampah ini.

Sekarang mereka juga mendapat tugas tambahan dari bundanya untuk membuang sampah di tempat pembuangan sampah sementara di mulut gang kampung kami. Jadi dari situ mereka tahu akibatnya bahwa semakin banyak sampah yang dihasilkan oleh mereka di rumah, berarti semakin berat pula sampah yang harus mereka angkat ke tempat pembuangan sementara tersebut. Dari situ mereka kemudian berpikir supaya sampahnya tidak terlalu berat, mengapa tidak dipilah-pilah saja dulu sehingga baru yang benar-benar tidak bisa terpakai yang harus mereka buang ke tempat pembuangan sementara. Tampaknya mereka sudah diajari oleh gurunya tentang sampah organik dan sampah non organik.

Akhirnya, sejak 2 bulan lalu saya sudah merancang proyek bersama untuk memulai memilah-milah sampah rumah kami. Ada 2 tempat sampah di rumah kami. Yang satu adalah sampah organik, biasanya sampah dari aktivitas makan dan memasak. Yang kedua adalah sampah non organik seperti kaleng, gelas, dan plastik-plastik yang kotor dan basah. Ternyata itu melatih kedisiplinan kami juga untuk membuang sampah berdasarkan kategorinya.

Ternyata pemilahan sampah berdasarkan 2 kategori itu kami amati belum cukup, masih banyak yang bisa kami kerjakan. Ini yang kami mau bagikan.

Untuk sampah organik, ada 2 hal yang dilakukan istri dan anak-anak. Yang pertama, biasanya istri akan memotong-motong sisa sayuran atau buah dalam bentuk kecil-kecil untuk dimasukkan ke pot-pot bunga dan tanaman kami sebagai pengganti tanah. Harap maklum, tanah untuk pot tanaman di Balikpapan cukup mahal, jadi terkadang kami menanam tanaman di pot dengan tanah hanya separuhnya, lalu di atasnya kami isi sisa-sisa sayuran tersebut lalu di atasnya ditimbuni lapisan tanah tipis lagi supaya terlihat rapi. Jadi jangan heran kalau tanaman hias kami besar-besar daunnya karena mendapat unsur hara dengan cara seperti itu.

Yang kedua adalah menjadikan sampah organik menjadi kompos. Makanya di samping rumah kami ada 2 pot besar dan 1 ember besar untuk membuat sampah. 2 pot yang besar digunakan untuk membuat kompos dengan menggunakan bibit mikroba pengurai sampah di dalamnya. Setiap ada sampah organik taruh saja di situ, beberapa minggu kemudian pastilah akan hancur terurai menjadi pupuk kompos. Sedangkan 1 ember besar itu untuk membuat kompos dengan cara konvensional. Taruh sampah di dalamnya, timbun dengan lapisan tanah tipis, begitu seterusnya sampai penuh lalu tutup sampai beberapa minggu kemudian berubah menjadi pupuk kompos. Dengan cara inilah kami memiliki pupuk untuk hobi kami memelihara tanaman hias dalam pot dan sayur-sayuran dalam polibag. Lumayanlah, kami sering memetik cabe, daun kemangi, seledri, kangkung atau caisim dari pekarangan sendiri. Ini sayuran organik lho.

Untuk sampah kertas, kami memutuskan untuk melakukan daur-ulang. Karena itu kami memiliki ember besar bekas cat tembok di mana untuk setiap sampah kertas harus dirobek-robek menjadi potongan kecil lalu dimasukkan di dalamnya. Begitu yang kami lakukan setiap hari. Bila sudah penuh, bersiaplah kami mendaur-ulangnya. Dan inilah proyek bersama kami yang ditunggu-tunggu. Di sinilah anak-anak kami libatkan untuk mem-blender bubur kertas tersebut lalu bersama-sama kami membuat lembaran-lembaran kertas daur-ulang lalu menjemurnya. Di sinilah keceriaan itu muncul. Si kecil yang membantu bundanya memblender. Kakaknya yang senang mengaduk-aduk bubur kertas karena teksturnya yang menggelikan tersebut. Lalu keceriaan saat kertas pun berhasil dibuat.

Sekarang kami sedang memikirkan bagaimana harus memperlakukan sampah plastik. Anak-anak kami meminta dibuatkan wadah dari karton bekas supaya bisa menaruh setiap sampah plastik di dalamnya. Dulu mereka tahu dari sebuah pameran bahwa ada pengrajin vas bunga dari plastik bekas yang mau membeli setiap sampah plastik dengan harga Rp 500,- per kilonya. Karena saya pikir bagus juga untuk melatih anak-anak berpikir bisnis sejak kecil, akhirnya saya membuatkan karton besar untuk mengumpulkan sampah plastik dari aktivitas rumah kami. Kalau sudah banyak nanti dijual dan uangnya bisa dipakai untuk menambah uang jajan maupun tabungan mereka.

Sekarang sampah plastik itu sudah mulai menumpuk di wadahnya tersebut. Dan sialnya, pengrajin tersebut tampaknya sudah tidak aktif lagi membeli sampah-sampah plastik sehingga anak-anak selalu bertanya-tanya kapan kami mengajak mereka menjual sampah plastik tersebut. Wah, saya pikir ini senjata makan tuan namanya. Bundanya juga sudah tidak sabar untuk membuangnya saja ke tempat pembuangan sementara atau malah memberikannya ke para pemulung yang jarang-jarang berkeliaran di Balikpapan ini.

Itu yang masih menjadi PR bagi kami. Kalau nanti benar usaha kerajinan itu sudah tutup, tampaknya kami akan memberikannya saja ke pemulung yang lewat depan rumah, lalu kami yang akan mengganti setiap kilo plastik anak-anak kami dengan Rp 500,- untuk penghargaan atas jerih payah dan usaha mereka itu.

Semoga setiap proyek bersama ini menempel terus ke dalam memori anak-anak kami sampai dewasa nanti. Dan begitu pula mereka akan melakukanya dengan cucu-cucu kami kelak.

Foto: koleksi pribadi

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 7 Mei 2010)

Oleh: balikpapannaa | Mei 7, 2010

Kolektor Biji

 

Dulu kita dibiasakan untuk dekat dengan alam. Kita terbiasa bermain di alam bebas. Kita berlarian di antara rimbun pepohonan. Seringkali masa kecil saya diisi dengan permainan perang-perangan di antara lebatnya pohon dan tanaman di kebun. Tapi sekarang semuanya itu tinggal kenang-kenangan. Anak-anak kita lebih senang berada di depan komputer ketimbang di bawah pohon. Anak-anak kita juga lebih senang berada di mal ketimbang di kebun. Zaman memang sudah berubah.Sejak masih di bangku sekolah dulu, saya sudah belajar tentang manfaat pohon bagi kehidupan, saya yakin Anda juga diajarkan hal yang sama. Tapi apakah pengetahuan itu membuat kita semakin menghargai pohon ? Tampaknya tidak. Ketika generasi seusia saya bertumbuh menjadi dewasa, tampaknya pengetahuan tentang manfaat pohon itu tidak berbekas sama sekali. Generasi saya yang sekarang menjadi pejabat tampaknya ringan-ringan saja mengeluarkan ijin untuk membabat hutan dengan dalih pembangunan sekalipun. Generasi saya yang sekarang menjadi pengembang perumahan tampaknya senang-senang saja membabat pohon untuk kelancaran pembangunan kompleks perumahannya.

Kadang saya berpikir kalau generasi saya sekarang saja sudah tidak menghargai pohon, apalagi generasi anak-anak saya. Karena itulah kami mendidik anak-anak sejak dini untuk mencintai lingkungan hidup. Salah satunya adalah dengan mengoleksi dan menanam biji-bijian.

Dalam film “An Inconvenient Truth”, disebutkan paling tidak ada 10 hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi pemanasan global. Satu di antaranya adalah dengan menanam pohon. Penelitian membuktikan bahwa sebuah pohon akan mampu menyerap 1 ton Karbon dioksida sepanjang umurnya. Nah, nggak usah jauh-jauh. Bayangkan berapa ton Karbon dioksida yang kita hasilkan dari setiap harta dan aktivitas kita. Kalau Anda mempunyai mobil, motor, kulkas, televisi bahkan bila kita hanya berlangganan listrik PLN sekalipun kita sebenarnya secara langsung dan tidak langsung sudah memproduksi Karbon dioksida. Nah, idealnya setiap keluarga seharusnya mempunyai pohon dan tanaman yang bisa menyerap Karbon dioksida yang dihasilkannya.

Pertanyaan yang sering diajukan setiap keluarga untuk berkelit dari kewajiban di atas adalah bagaimana mendapatkan bibitnya. Kalau untuk mendapatkan bibit saja sudah begitu susah dan mahal, bagaimana bisa menanam sebuah pohon.

Kita memang sudah terbiasa dengan budaya instan. Dalam kasus ini, kita mau menanam kalau memang ada bibitnya. Solusinya sebenarnya sederhana saja, yaitu dengan mengoleksi dan menanam biji. Sudah setahun ini kami sekeluarga memiliki hobi baru. Setiap kali habis memakan buah-buahan entah rambutan, mangga, klengkeng, alpukat, sirsak atau pepaya, kami tidak membuang bijinya tapi mengumpulkannya pada satu wadah tertentu.

 

Setelah biji terkumpul, kami akan mengeringkannya dengan jalan menjemurnya. Setelah itu kami akan memilih biji-biji yang baik saja lalu menanamnya dalam sebuah polibag yang kadang kami buat dari gelas bekas air mineral. Memang perlu penyiraman dan pemumpukan yang teratur supaya biji tersebut berkecambah. Dan benar saja dalam waktu 1-2 bulan kami sudah akan mendapatkan bibit baru sebuah pohon. Tinggal tunggu sampai setinggi 1 meter untuk bisa ditanam pada tempat yang kita inginkan. Memang perlu waktu lama untuk mendapatkan bibit, apalagi untuk panen buahnya. Tapi kami kan bukan proyek pemerintah yang harus segera dimulai dan harus segera mendapatkan hasil. Ini adalah inisiatif kami sendiri dan biarkan kami menikmati proses yang alami ini untuk mendapatkan bibit.

Paling tidak ada 3 manfaat yang bisa didapat oleh kami sekeluarga. Yang pertama, hubungan saya, istri dan anak-anak menjadi lebih baik karena sering mengerjakan proyek bersama dalam mengoleksi biji dan membuat bibit ini. Yang kedua, memberikan anak-anak pelajaran biologi tentang perkembangan tanaman dari sebuah biji sampai menjadi pohon. Dan ini yang terpenting, kami mengajari anak-anak kami bahwa langkah yang sederhana ini bisa berakibat dahsyat bagi kehidupan.

Kami bersyukur memiliki pekarangan depan rumah yang walaupun sempit tapi dipenuhi dengan aneka macam tanaman dari pohon Beringin, pohon Mangga dan tanaman berdaun lebar seperti Sri Rejeki dan Sri Rahayu juga tanaman Anggrek. Inilah taman rumah kami yang sederhana itu. Kami yakin bahwa bahwa kami tidak perlu berhutang karbon lagi pada bumi ini, karena setiap karbon yang dihasilkan oleh aktivitas dan barang-barang kami sebagian besar sudah diserap oleh tanaman dan pohon-pohonan di rumah kami.

Sekedar mimpi, seandainya setiap rumah tangga mau susah sedikit mengoleksi biji dan membuat bibit tanaman, pasti setiap rumah akan semakin hijau, udara semakin segar dan kualitas hidup kita bersama akan semakin meningkat.

Anda tertarik untuk menjadi kolektor biji dan penyedia bibit pohon ? Mari kita mulai sekarang di rumah kita masing-masing.

Foto: koleksi pribadi

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 3 Mei 2010)

Oleh: balikpapannaa | Maret 4, 2010

Menjelajahi Hutan Lindung Sungai Wain

Sebagai orangtua dengan 2 anak jagoan yang mulai merasakan sibuknya sekolah, sudah menjadi komitmen kami berdua untuk mendidik dan mengajari mereka untuk mencintai lingkungan hidup. Salah satu program kami adalah membawa mereka untuk menjelajahi hutan. Masih melekat dalam ingatan kami bagaimana kami mengajak mereka berdua (yang saat itu masih berumur 4 dan 1 tahun) menjelajahi hutan Tangkoko di Sulawesi Utara untuk menemukan Tarsius di habitat aslinya. Demikian juga saat kami mengajak mereka untuk memasuki hutan dan mendaki gunung Mahawu di Sulawesi Utara. Nah, saat kami tinggal dan bekerja di Balikpapan, kebiasaan itu terus berlangsung malah sayang kalau dilewatkan mengingat kami tinggal di sebuah pulau yang terkenal dengan hutan tropisnya.

Dengan komitmen dan idealisme seperti itulah makanya saat liburan kemarin kami bersepakat untuk menggunakan hari tersebut mengunjungi Hutan Lindung Sungai Wain, salah satu kebanggaan pemerintah dan warga Balikpapan. Nah, melalui reportase ini kami ingin membagikan kepada Anda pengalaman selama menjelajahi hutan tersebut.

Menurut sejarahnya, Hutan Lindung Sungai Wain yang terletak 15 km dari kota Balikpapan ini adalah kawasan konservasi peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara dan sudah ditetapkan sebagai “hutan tutupan oleh Sultan Kutai Kartanegara sejak tahun 1934. Dengan luas 9.782 ha dan terdapatnya 2 DAS (Daerah Aliran Sungai), hutan ini berfungsi sebagai daerah tangkapan air bagi kota Balikpapan. Malah di tahun 1947 perusahaan minyak BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) membangun waduk di areal sini, dilanjutkan oleh Shell di tahun 1969 dan mulai tahun 1972 dikelola oleh Pertamina sampai sekarang.

Berdasarkan penjelasan dari Pak Agus, salah seorang kepala divisi di Badan Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain (BPHLSW), Hutan Lindung Sungai Wain adalah hutan yang mempunyai keanekaragaman hayati yang tinggi. Entah pohon-pohonan seperti Bangkirai, Ulin dan Gaharu, entah rotan maupun jenis palem-paleman ataupun anggrek dan pakis. Di hutan lindung ini juga masih dijumpai mamalia langka seperti Macan Dahan, Beruang Madu, Lutung, Bekantan, Orangutan maupun Beruk. Juga berjenis-jenis burung seperti burung Enggang, burung Tiong Batu Kalimantan dan burung Pelatuk. Terus terang, niat kami untuk bersusah payah menjelajahi Hutan Lindung Sungai Wain adalah untuk menemui Orangutan atau Beruang Madu. Tapi ternyata tidak semudah yang dibayangkan, perlu waktu dan persiapan yang lebih baik lagi untuk mencari dan menemui mereka. Lain kali kami bertekad untuk kembali datang, menjelajah dan menemukan mereka.

Pak Agus berbagi dengan kami bahwa sebelum reformasi Hutan Lindung Sungai Wain dikelola secara ekslusif oleh LSM lokal yang didonasi dari luar negeri. Sebagai bentuk tanggung jawab, Hutan Lindung Sungai Wain benar-benar dibuat tertutup oleh pihak luar, kecuali oleh kaum peneliti yang akan melakukan penelitian. Demi tanggung jawab inilah Pak Agus dan teman-teman berani berhadapan dengan pihak-pihak luar maupun masyarakat sekitar untuk menjaga kelangsungan hutan lindung. Bahkan selama masa kebakaran hebat di tahun 1998, mereka harus berjuang menyelamatkan hutan lindung walau akhirnya hanya tersisa separuhnya saja. Dalam perjalanannya, pengelolaan hutan lindung diambil alih oleh Pemkot Balikpapan dengan Pak Agus dan kawan-kawan sebagai unit pelaksananya. Unit pelaksana ini memiliki beberapa divisi dan beberapa ranger (penjaga hutan) yang dalam tugas pengamanan juga didukung oleh TNI AD dan pihak kepolisian. Untuk mengakrabkan hutan ini dengan warga Balikpapan, akhirnya hutan ini dibuka untuk umum secara terbatas, terutama untuk kunjungan pendidikan dan penelitian.

Baiklah, mari kita mulai perjalanan kita. Kurang dari 30 menit dari kota Balikpapan ke jalan menuju kota Samarinda, tepatnya di km 15 Anda akan menemukan sebuah baliho besar penanda Hutan Lindung Sungai Wain, waduk Pertamina dan juga Kebun Raya Balikpapan. Anda bisa berbelok kiri lalu masih perlu menempuh 6 km lagi untuk mencapai hutan lindung.

 

Anak-anak sudah mulai mengoceh nggak karuan kala kami mulai memasuki jalan kecil dengan hutan lebat di kiri kanannya. Udara juga mulai terasa segar walaupun terasa kelembabannya yang tinggi. Jangan kaget kalau Anda menjumpai baliho besar bertuliskan Kebun Raya Balikpapan. Di sini sudah dimulai pembangunan fasilitas Kebun Raya Balikpapan, calon kebun raya terbesar ke-4 di Indonesia. Saat kami datang, pembangunan masih berlangsung. Jalan masuknya juga masih belum diaspal, karenanya belum layak dikunjungi.

 

Akhirnya sampailah kami di Pusat Informasi Hutan Lindung Sungai Wain, disambut dengan beberapa bapak ranger (penjaga hutan) juga Pak Agus, kepala divisi litbang yang saya sebutkan di atas tadi. Di sinilah kami dan anak-anak mengobrol banyak dengan Pak Agus mengenai keberadaan hutan lindung ini. Ada satu prosedur yang kami belum ketahui sebelumnya. Ternyata untuk memasuki area hutan lindung, kami perlu mengajukan ijin sehari sebelumnya ke Unit Pelaksana Badan Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain (Jl Soekarno Hatta km 23 Komplek KWPLH – Balikapapan). Di surat ijin itulah kita bisa menyebutkan maksud penjelajahan kita, apakah sekedar penjelajahan atau sampai menemukan Orangutan atau Beruang Madu, ataukah pengamatan burung atau penelitian tentang jamur. Kita juga akan mendapatkan seorang pendamping (guide) dalam penjelajahan itu. Karena ini kawasan hutan lindung yang sangat ketat ijin masuknya dan penjelajahan sangat dibatasi untuk menjaga kealamiannya, belum tentu kita bisa masuk di jadwal yang kita rencanakan. Apalagi kalau Anda datang bersama orang asing, ijin ini juga sekaligus sebagai disclaimer bahwa resiko apapun yang dijumpai akan menjadi tanggung jawab pribadi yang bersangkutan. Hal ini penting mengingat sebelumnya ada seorang nenek yang tewas dimakan buaya sungai saat memancing di Sungai Wain, juga ada seorang turis dari Ceko yang tersesat selama seminggu karena masuk tanpa ijin dan tidak mengikuti rute penjelajahan yang sudah ditetapkan.

Beruntung pada hari kedatangan kami saat itu tidak ada agenda penjelajahan lain yang sudah terjadwal sehingga kami diijinkan untuk masuk menjelajah hutan lindung. Itu pun terbatas hanya di bagian luar saja dan harus didampingi oleh seorang ranger. Yah, agak kecewa sih tapi mau bagaimana lagi. Kami harus mengikuti aturan yang ada, jadi kami memutuskan untuk tetap menjelajahi hutan walaupun tidak boleh sampai ke hutan primernya.

Persiapan pun dimulai. Kami semua mengenakan sepatu karena tanahnya yang berair juga banyak lintah dan pacet yang siap mengisap darah kami. Setelah bergaya sebentar di pintu gerbang kami pun siap memasuki hutan didampingi Pak Jauri, seorang ranger yang sudah mengabdi di hutan lindung ini sejak tahun 1997.

 

Tapi baru saja memasuki areal hutan, si kecil Lentera sudah mulai menangis ketakutan karena suasana di dalam hutan mulai gelap diiringi suara riuh binatang serangga yang biasa disebut “Gareng”. Tapi lama kelamaan dia sudah terbiasa malah mulai menikmati penjelajahan ini.

 

Dan benar apa kata Pak Agus mengenai keanekaragaman hayati di hutan lindung. Di hutan lindung ini, walaupun baru sebatas hutan bagian luar kami sudah menemui pohon-pohon besar Bangkirai. Juga tanaman rotan yang menjulur sampai jauh. Kami juga menemukan tanaman semacam Gembili, tapi umbinya bukan di akar tapi menggantung di sulur yang melilit sebuah pohon.

 

Ada juga pohon Palem raksasa, Di bawahnya kami seperti manusia mini saja he..he….Juga sebuah tanaman sulur-suluran yang mampu melilit pohon besar mirip ular yang sedang melilit tubuh korbannya.

 

Kami juga menemukan pohon Pasak Bumi yang biasanya banyak dicari oleh bapak-bapak. Kalau Anda penasaran beginilah pohonnya. Pohonnya kecil, tapi lurus ke atas dengan daunnya yang sedikit saja.

 

Beberapa kali jalan setapak terpotong oleh pohon raksasa yang tumbang sampai akar-akarnya, membuat kami harus berjalan memutar. Kalau Anda melihat besarnya akarnya di gambar ini , silakan Anda membayangkan seberapa besar pohonnya.

 

Akhirnya sampailah kami di DAS Sungai Wain. Di sinilah beberapa tahun lalu ada seorang nenek yang tewas dimakan buaya. Beruntung kami ditemani oleh Pak Jauri yang sungguh sudah mengenal seluk beluk hutan ini sehingga kami merasa aman saat harus memilih jalan setapak di samping sungai.

 

Dan akhirnya sampailah kami di waduk Pertamina. Ada beberapa gazebo di sana tempat Anda melepas lelah sesaat. Kalau masih ada tenaga, Anda bisa menyeberangi sungai lalu melalui jembatan kayu sepanjang 150-an meter untuk memulai penjelajahan di wilayah hutan primer. Sayang, kami tidak memiliki ijin untuk memasukinya saat itu.

 

Di areal hutan ini, beberapa kali kami melihat sekelebatan monyet atau Bekantan di antara pepohonan. Tapi memang belum rejeki kami untuk melihatnya hari itu. Oh ya, pada bulan-bulan ini sedang musim berbuah seperti pohon Kecapi, Cempedak atau Durian Le. Jadi beberapa mamalia sedang berpesta buah di tengah hutan, itu yang membuat mereka tidak dijumpai di kawasan pinggiran hutan.

Akhirnya penjelajahan pun berakhir tepat jam 12 siang dengan matahari terik tepat di atas kepala. Anak-anak pun terpuaskan rasa penasarannya karena sudah menjelajahi hutan lindung Sungai Wain. Semoga mereka kelak tumbuh menjadi penjaga lingkungan hidup dan hutan yang ada. Kami bertekad suatu saat nanti kami akan kembali untuk menemukan beruang madu atau Orangutan besar yang kata Pak Agus pernah dijumpai sudah sebesar Kingkong. Kalau Kompasioner tertarik untuk ikut serta silakan kontak saya he..he…. dan kita bisa bicarakan rencananya nanti ya.

Beruntunglah kami sebagai warga Balikpapan, yang pemerintah kotanya sampai sekarang masih konsisten berkomitmen untuk tidak memberikan ijin pertambangan batubara di areal Balikpapan. Kalau Anda membaca laporan Kompas mengenai pertambangan batubara di Kalimantan Timur, Anda akan membaca bahwa di sini hanya Balikpapanlah yang masih berkomitmen tidak mengijinkan ada pertambangan batubara di sini. Dan itulah mengapa, kami masih bisa menemukan hutan alami yang masih asli dan nyaris belum tersentuh serakahnya species Homo Sapiens, macam kita-kita ini.

Referensi:

  1. Leaflet “Hutan Lindung Sungai Wain: Kebanggaan Kota Balikpapan”, Unit Pelaksana Badan Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain.
  2. Leaflet “Kebun Raya Balikpapan”, Pemkot Balikpapan.

 

Ilustrasi foto: Dokumen pribadi.

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 4 Maret 2010)

Oleh: balikpapannaa | Februari 14, 2010

PANTAI LAMARU

10 menit ke utara dari Pantai Wisata Manggar, Anda bisa mampir juga ke Pantai Lamaru. Memang belum ditata dengan baik sebagaimana Pantai Manggar, tapi orang-orang banyak yang mengunjunginya.

Jalan masuk ke areal pantai belum beraspal bagus, tapi kalau Anda punya hobi fotografi, jalan masuk Pantai lamaru cukup bagus untuk dijadikan obyek jepretan Anda.

Oleh: balikpapannaa | Februari 14, 2010

PANTAI WISATA MANGGAR

Memang tidak terlalu banyak pilihan tempat wisata di Balikpapan, mungkin itulah yang menyebabkan orang kurang bisa menikmati tinggal di Balikapapan, bila dibandingkan dengan Jawa misalnya.

Tapi hidup harus tetap berlanjut kalau Tuhan sudah tempatkan Anda di Balikpapan sini. Kalau Anda suka dengan pantai, di sini ada pantai wisata Manggar. Anda bisa mencapainya kira-kira 30 menit dari bandara Sepinggan ke arah utara.

Pantainya lumayan bersih dengan pasir putihnya, untuk tiket masuk juga tidak terlalu mahal untuk ukuran Anda yang tinggal dan kerja di Balikpapan. Sekedar sebagai referensi, berikut ini ada foto-fotonya.

Oleh: balikpapannaa | Februari 14, 2010

SELAMAT DATANG DI BALIKPAPAN

Apabila Anda keluar dari areal Bandara Sepinggan Balikpapan, Anda akan disambut dengan ini.

 

Di dalam areal bandara memang ada sebidang tanah yang ditanami kelapa sawit hias (tampak di foto atas bagian kanan) sehingga terlihat hijau. Lalu kalau Anda melewati gerbang Selamat Datang itu, Anda akan disambut dengan jalanan bersih 2 jalur dengan taman yang lumayan enak dipandang.

Selamat datang di Balikpapan.

Older Posts »

Kategori