Oleh: balikpapannaa | Mei 7, 2010

Pilah Sampah Sejak di Rumah

Menanamkan kebiasaan yang baik haruslah sedini mungkin, begitu petuah bijak orangtua dulu. Dan itulah yang saya praktekkan sejak menjadi orang tua dari 2 anak lelaki yang sekarang sudah kelas 2 SD dan TK kecil. Terkadang capek juga sudah 2 minggu kerja terpisah jauh dari keluarga lalu inginnya memanfaatkan 2 minggu libur untuk bersantai dan menikmati hidup. Tapi apalah artinya hidup kalau kita bersantai sementara anak-anak kita berantakan hidupnya. Karena itu terkadang selama 2 minggu kerja jauh dari rumah saya berpikir keras untuk merancang proyek apa yang akan kerjakan kelak bersama istri dan anak-anak selama waktu libur saya.

Mengenai sampah, anak-anak saya sebenarnya sudah bisa dikatakan cukup mengerti dan mempraktekkan dengan baik untuk tidak membuang sampah sembarangan. Seringkali ketika kami mencuci dan menyetrika pakaian seragam mereka, kami menemukan bungkus permen di saku mereka. Kami tersenyum bangga dibuatnya, anak sekecil itu sudah tahu lebih memilih untuk menyimpan sampah di sakunya kalau tidak menemukan tempat sampah di dekatnya. Memang terkadang mereka bandel juga, namanya juga anak, tapi tampaknya mereka menunjukkan progres perkembangan yang lebih baik dalam hal disiplin membuang sampah ini.

Sekarang mereka juga mendapat tugas tambahan dari bundanya untuk membuang sampah di tempat pembuangan sampah sementara di mulut gang kampung kami. Jadi dari situ mereka tahu akibatnya bahwa semakin banyak sampah yang dihasilkan oleh mereka di rumah, berarti semakin berat pula sampah yang harus mereka angkat ke tempat pembuangan sementara tersebut. Dari situ mereka kemudian berpikir supaya sampahnya tidak terlalu berat, mengapa tidak dipilah-pilah saja dulu sehingga baru yang benar-benar tidak bisa terpakai yang harus mereka buang ke tempat pembuangan sementara. Tampaknya mereka sudah diajari oleh gurunya tentang sampah organik dan sampah non organik.

Akhirnya, sejak 2 bulan lalu saya sudah merancang proyek bersama untuk memulai memilah-milah sampah rumah kami. Ada 2 tempat sampah di rumah kami. Yang satu adalah sampah organik, biasanya sampah dari aktivitas makan dan memasak. Yang kedua adalah sampah non organik seperti kaleng, gelas, dan plastik-plastik yang kotor dan basah. Ternyata itu melatih kedisiplinan kami juga untuk membuang sampah berdasarkan kategorinya.

Ternyata pemilahan sampah berdasarkan 2 kategori itu kami amati belum cukup, masih banyak yang bisa kami kerjakan. Ini yang kami mau bagikan.

Untuk sampah organik, ada 2 hal yang dilakukan istri dan anak-anak. Yang pertama, biasanya istri akan memotong-motong sisa sayuran atau buah dalam bentuk kecil-kecil untuk dimasukkan ke pot-pot bunga dan tanaman kami sebagai pengganti tanah. Harap maklum, tanah untuk pot tanaman di Balikpapan cukup mahal, jadi terkadang kami menanam tanaman di pot dengan tanah hanya separuhnya, lalu di atasnya kami isi sisa-sisa sayuran tersebut lalu di atasnya ditimbuni lapisan tanah tipis lagi supaya terlihat rapi. Jadi jangan heran kalau tanaman hias kami besar-besar daunnya karena mendapat unsur hara dengan cara seperti itu.

Yang kedua adalah menjadikan sampah organik menjadi kompos. Makanya di samping rumah kami ada 2 pot besar dan 1 ember besar untuk membuat sampah. 2 pot yang besar digunakan untuk membuat kompos dengan menggunakan bibit mikroba pengurai sampah di dalamnya. Setiap ada sampah organik taruh saja di situ, beberapa minggu kemudian pastilah akan hancur terurai menjadi pupuk kompos. Sedangkan 1 ember besar itu untuk membuat kompos dengan cara konvensional. Taruh sampah di dalamnya, timbun dengan lapisan tanah tipis, begitu seterusnya sampai penuh lalu tutup sampai beberapa minggu kemudian berubah menjadi pupuk kompos. Dengan cara inilah kami memiliki pupuk untuk hobi kami memelihara tanaman hias dalam pot dan sayur-sayuran dalam polibag. Lumayanlah, kami sering memetik cabe, daun kemangi, seledri, kangkung atau caisim dari pekarangan sendiri. Ini sayuran organik lho.

Untuk sampah kertas, kami memutuskan untuk melakukan daur-ulang. Karena itu kami memiliki ember besar bekas cat tembok di mana untuk setiap sampah kertas harus dirobek-robek menjadi potongan kecil lalu dimasukkan di dalamnya. Begitu yang kami lakukan setiap hari. Bila sudah penuh, bersiaplah kami mendaur-ulangnya. Dan inilah proyek bersama kami yang ditunggu-tunggu. Di sinilah anak-anak kami libatkan untuk mem-blender bubur kertas tersebut lalu bersama-sama kami membuat lembaran-lembaran kertas daur-ulang lalu menjemurnya. Di sinilah keceriaan itu muncul. Si kecil yang membantu bundanya memblender. Kakaknya yang senang mengaduk-aduk bubur kertas karena teksturnya yang menggelikan tersebut. Lalu keceriaan saat kertas pun berhasil dibuat.

Sekarang kami sedang memikirkan bagaimana harus memperlakukan sampah plastik. Anak-anak kami meminta dibuatkan wadah dari karton bekas supaya bisa menaruh setiap sampah plastik di dalamnya. Dulu mereka tahu dari sebuah pameran bahwa ada pengrajin vas bunga dari plastik bekas yang mau membeli setiap sampah plastik dengan harga Rp 500,- per kilonya. Karena saya pikir bagus juga untuk melatih anak-anak berpikir bisnis sejak kecil, akhirnya saya membuatkan karton besar untuk mengumpulkan sampah plastik dari aktivitas rumah kami. Kalau sudah banyak nanti dijual dan uangnya bisa dipakai untuk menambah uang jajan maupun tabungan mereka.

Sekarang sampah plastik itu sudah mulai menumpuk di wadahnya tersebut. Dan sialnya, pengrajin tersebut tampaknya sudah tidak aktif lagi membeli sampah-sampah plastik sehingga anak-anak selalu bertanya-tanya kapan kami mengajak mereka menjual sampah plastik tersebut. Wah, saya pikir ini senjata makan tuan namanya. Bundanya juga sudah tidak sabar untuk membuangnya saja ke tempat pembuangan sementara atau malah memberikannya ke para pemulung yang jarang-jarang berkeliaran di Balikpapan ini.

Itu yang masih menjadi PR bagi kami. Kalau nanti benar usaha kerajinan itu sudah tutup, tampaknya kami akan memberikannya saja ke pemulung yang lewat depan rumah, lalu kami yang akan mengganti setiap kilo plastik anak-anak kami dengan Rp 500,- untuk penghargaan atas jerih payah dan usaha mereka itu.

Semoga setiap proyek bersama ini menempel terus ke dalam memori anak-anak kami sampai dewasa nanti. Dan begitu pula mereka akan melakukanya dengan cucu-cucu kami kelak.

Foto: koleksi pribadi

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 7 Mei 2010)

Oleh: balikpapannaa | Mei 7, 2010

Kolektor Biji

 

Dulu kita dibiasakan untuk dekat dengan alam. Kita terbiasa bermain di alam bebas. Kita berlarian di antara rimbun pepohonan. Seringkali masa kecil saya diisi dengan permainan perang-perangan di antara lebatnya pohon dan tanaman di kebun. Tapi sekarang semuanya itu tinggal kenang-kenangan. Anak-anak kita lebih senang berada di depan komputer ketimbang di bawah pohon. Anak-anak kita juga lebih senang berada di mal ketimbang di kebun. Zaman memang sudah berubah.Sejak masih di bangku sekolah dulu, saya sudah belajar tentang manfaat pohon bagi kehidupan, saya yakin Anda juga diajarkan hal yang sama. Tapi apakah pengetahuan itu membuat kita semakin menghargai pohon ? Tampaknya tidak. Ketika generasi seusia saya bertumbuh menjadi dewasa, tampaknya pengetahuan tentang manfaat pohon itu tidak berbekas sama sekali. Generasi saya yang sekarang menjadi pejabat tampaknya ringan-ringan saja mengeluarkan ijin untuk membabat hutan dengan dalih pembangunan sekalipun. Generasi saya yang sekarang menjadi pengembang perumahan tampaknya senang-senang saja membabat pohon untuk kelancaran pembangunan kompleks perumahannya.

Kadang saya berpikir kalau generasi saya sekarang saja sudah tidak menghargai pohon, apalagi generasi anak-anak saya. Karena itulah kami mendidik anak-anak sejak dini untuk mencintai lingkungan hidup. Salah satunya adalah dengan mengoleksi dan menanam biji-bijian.

Dalam film “An Inconvenient Truth”, disebutkan paling tidak ada 10 hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi pemanasan global. Satu di antaranya adalah dengan menanam pohon. Penelitian membuktikan bahwa sebuah pohon akan mampu menyerap 1 ton Karbon dioksida sepanjang umurnya. Nah, nggak usah jauh-jauh. Bayangkan berapa ton Karbon dioksida yang kita hasilkan dari setiap harta dan aktivitas kita. Kalau Anda mempunyai mobil, motor, kulkas, televisi bahkan bila kita hanya berlangganan listrik PLN sekalipun kita sebenarnya secara langsung dan tidak langsung sudah memproduksi Karbon dioksida. Nah, idealnya setiap keluarga seharusnya mempunyai pohon dan tanaman yang bisa menyerap Karbon dioksida yang dihasilkannya.

Pertanyaan yang sering diajukan setiap keluarga untuk berkelit dari kewajiban di atas adalah bagaimana mendapatkan bibitnya. Kalau untuk mendapatkan bibit saja sudah begitu susah dan mahal, bagaimana bisa menanam sebuah pohon.

Kita memang sudah terbiasa dengan budaya instan. Dalam kasus ini, kita mau menanam kalau memang ada bibitnya. Solusinya sebenarnya sederhana saja, yaitu dengan mengoleksi dan menanam biji. Sudah setahun ini kami sekeluarga memiliki hobi baru. Setiap kali habis memakan buah-buahan entah rambutan, mangga, klengkeng, alpukat, sirsak atau pepaya, kami tidak membuang bijinya tapi mengumpulkannya pada satu wadah tertentu.

 

Setelah biji terkumpul, kami akan mengeringkannya dengan jalan menjemurnya. Setelah itu kami akan memilih biji-biji yang baik saja lalu menanamnya dalam sebuah polibag yang kadang kami buat dari gelas bekas air mineral. Memang perlu penyiraman dan pemumpukan yang teratur supaya biji tersebut berkecambah. Dan benar saja dalam waktu 1-2 bulan kami sudah akan mendapatkan bibit baru sebuah pohon. Tinggal tunggu sampai setinggi 1 meter untuk bisa ditanam pada tempat yang kita inginkan. Memang perlu waktu lama untuk mendapatkan bibit, apalagi untuk panen buahnya. Tapi kami kan bukan proyek pemerintah yang harus segera dimulai dan harus segera mendapatkan hasil. Ini adalah inisiatif kami sendiri dan biarkan kami menikmati proses yang alami ini untuk mendapatkan bibit.

Paling tidak ada 3 manfaat yang bisa didapat oleh kami sekeluarga. Yang pertama, hubungan saya, istri dan anak-anak menjadi lebih baik karena sering mengerjakan proyek bersama dalam mengoleksi biji dan membuat bibit ini. Yang kedua, memberikan anak-anak pelajaran biologi tentang perkembangan tanaman dari sebuah biji sampai menjadi pohon. Dan ini yang terpenting, kami mengajari anak-anak kami bahwa langkah yang sederhana ini bisa berakibat dahsyat bagi kehidupan.

Kami bersyukur memiliki pekarangan depan rumah yang walaupun sempit tapi dipenuhi dengan aneka macam tanaman dari pohon Beringin, pohon Mangga dan tanaman berdaun lebar seperti Sri Rejeki dan Sri Rahayu juga tanaman Anggrek. Inilah taman rumah kami yang sederhana itu. Kami yakin bahwa bahwa kami tidak perlu berhutang karbon lagi pada bumi ini, karena setiap karbon yang dihasilkan oleh aktivitas dan barang-barang kami sebagian besar sudah diserap oleh tanaman dan pohon-pohonan di rumah kami.

Sekedar mimpi, seandainya setiap rumah tangga mau susah sedikit mengoleksi biji dan membuat bibit tanaman, pasti setiap rumah akan semakin hijau, udara semakin segar dan kualitas hidup kita bersama akan semakin meningkat.

Anda tertarik untuk menjadi kolektor biji dan penyedia bibit pohon ? Mari kita mulai sekarang di rumah kita masing-masing.

Foto: koleksi pribadi

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 3 Mei 2010)

Oleh: balikpapannaa | Maret 4, 2010

Menjelajahi Hutan Lindung Sungai Wain

Sebagai orangtua dengan 2 anak jagoan yang mulai merasakan sibuknya sekolah, sudah menjadi komitmen kami berdua untuk mendidik dan mengajari mereka untuk mencintai lingkungan hidup. Salah satu program kami adalah membawa mereka untuk menjelajahi hutan. Masih melekat dalam ingatan kami bagaimana kami mengajak mereka berdua (yang saat itu masih berumur 4 dan 1 tahun) menjelajahi hutan Tangkoko di Sulawesi Utara untuk menemukan Tarsius di habitat aslinya. Demikian juga saat kami mengajak mereka untuk memasuki hutan dan mendaki gunung Mahawu di Sulawesi Utara. Nah, saat kami tinggal dan bekerja di Balikpapan, kebiasaan itu terus berlangsung malah sayang kalau dilewatkan mengingat kami tinggal di sebuah pulau yang terkenal dengan hutan tropisnya.

Dengan komitmen dan idealisme seperti itulah makanya saat liburan kemarin kami bersepakat untuk menggunakan hari tersebut mengunjungi Hutan Lindung Sungai Wain, salah satu kebanggaan pemerintah dan warga Balikpapan. Nah, melalui reportase ini kami ingin membagikan kepada Anda pengalaman selama menjelajahi hutan tersebut.

Menurut sejarahnya, Hutan Lindung Sungai Wain yang terletak 15 km dari kota Balikpapan ini adalah kawasan konservasi peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara dan sudah ditetapkan sebagai “hutan tutupan oleh Sultan Kutai Kartanegara sejak tahun 1934. Dengan luas 9.782 ha dan terdapatnya 2 DAS (Daerah Aliran Sungai), hutan ini berfungsi sebagai daerah tangkapan air bagi kota Balikpapan. Malah di tahun 1947 perusahaan minyak BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) membangun waduk di areal sini, dilanjutkan oleh Shell di tahun 1969 dan mulai tahun 1972 dikelola oleh Pertamina sampai sekarang.

Berdasarkan penjelasan dari Pak Agus, salah seorang kepala divisi di Badan Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain (BPHLSW), Hutan Lindung Sungai Wain adalah hutan yang mempunyai keanekaragaman hayati yang tinggi. Entah pohon-pohonan seperti Bangkirai, Ulin dan Gaharu, entah rotan maupun jenis palem-paleman ataupun anggrek dan pakis. Di hutan lindung ini juga masih dijumpai mamalia langka seperti Macan Dahan, Beruang Madu, Lutung, Bekantan, Orangutan maupun Beruk. Juga berjenis-jenis burung seperti burung Enggang, burung Tiong Batu Kalimantan dan burung Pelatuk. Terus terang, niat kami untuk bersusah payah menjelajahi Hutan Lindung Sungai Wain adalah untuk menemui Orangutan atau Beruang Madu. Tapi ternyata tidak semudah yang dibayangkan, perlu waktu dan persiapan yang lebih baik lagi untuk mencari dan menemui mereka. Lain kali kami bertekad untuk kembali datang, menjelajah dan menemukan mereka.

Pak Agus berbagi dengan kami bahwa sebelum reformasi Hutan Lindung Sungai Wain dikelola secara ekslusif oleh LSM lokal yang didonasi dari luar negeri. Sebagai bentuk tanggung jawab, Hutan Lindung Sungai Wain benar-benar dibuat tertutup oleh pihak luar, kecuali oleh kaum peneliti yang akan melakukan penelitian. Demi tanggung jawab inilah Pak Agus dan teman-teman berani berhadapan dengan pihak-pihak luar maupun masyarakat sekitar untuk menjaga kelangsungan hutan lindung. Bahkan selama masa kebakaran hebat di tahun 1998, mereka harus berjuang menyelamatkan hutan lindung walau akhirnya hanya tersisa separuhnya saja. Dalam perjalanannya, pengelolaan hutan lindung diambil alih oleh Pemkot Balikpapan dengan Pak Agus dan kawan-kawan sebagai unit pelaksananya. Unit pelaksana ini memiliki beberapa divisi dan beberapa ranger (penjaga hutan) yang dalam tugas pengamanan juga didukung oleh TNI AD dan pihak kepolisian. Untuk mengakrabkan hutan ini dengan warga Balikpapan, akhirnya hutan ini dibuka untuk umum secara terbatas, terutama untuk kunjungan pendidikan dan penelitian.

Baiklah, mari kita mulai perjalanan kita. Kurang dari 30 menit dari kota Balikpapan ke jalan menuju kota Samarinda, tepatnya di km 15 Anda akan menemukan sebuah baliho besar penanda Hutan Lindung Sungai Wain, waduk Pertamina dan juga Kebun Raya Balikpapan. Anda bisa berbelok kiri lalu masih perlu menempuh 6 km lagi untuk mencapai hutan lindung.

 

Anak-anak sudah mulai mengoceh nggak karuan kala kami mulai memasuki jalan kecil dengan hutan lebat di kiri kanannya. Udara juga mulai terasa segar walaupun terasa kelembabannya yang tinggi. Jangan kaget kalau Anda menjumpai baliho besar bertuliskan Kebun Raya Balikpapan. Di sini sudah dimulai pembangunan fasilitas Kebun Raya Balikpapan, calon kebun raya terbesar ke-4 di Indonesia. Saat kami datang, pembangunan masih berlangsung. Jalan masuknya juga masih belum diaspal, karenanya belum layak dikunjungi.

 

Akhirnya sampailah kami di Pusat Informasi Hutan Lindung Sungai Wain, disambut dengan beberapa bapak ranger (penjaga hutan) juga Pak Agus, kepala divisi litbang yang saya sebutkan di atas tadi. Di sinilah kami dan anak-anak mengobrol banyak dengan Pak Agus mengenai keberadaan hutan lindung ini. Ada satu prosedur yang kami belum ketahui sebelumnya. Ternyata untuk memasuki area hutan lindung, kami perlu mengajukan ijin sehari sebelumnya ke Unit Pelaksana Badan Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain (Jl Soekarno Hatta km 23 Komplek KWPLH – Balikapapan). Di surat ijin itulah kita bisa menyebutkan maksud penjelajahan kita, apakah sekedar penjelajahan atau sampai menemukan Orangutan atau Beruang Madu, ataukah pengamatan burung atau penelitian tentang jamur. Kita juga akan mendapatkan seorang pendamping (guide) dalam penjelajahan itu. Karena ini kawasan hutan lindung yang sangat ketat ijin masuknya dan penjelajahan sangat dibatasi untuk menjaga kealamiannya, belum tentu kita bisa masuk di jadwal yang kita rencanakan. Apalagi kalau Anda datang bersama orang asing, ijin ini juga sekaligus sebagai disclaimer bahwa resiko apapun yang dijumpai akan menjadi tanggung jawab pribadi yang bersangkutan. Hal ini penting mengingat sebelumnya ada seorang nenek yang tewas dimakan buaya sungai saat memancing di Sungai Wain, juga ada seorang turis dari Ceko yang tersesat selama seminggu karena masuk tanpa ijin dan tidak mengikuti rute penjelajahan yang sudah ditetapkan.

Beruntung pada hari kedatangan kami saat itu tidak ada agenda penjelajahan lain yang sudah terjadwal sehingga kami diijinkan untuk masuk menjelajah hutan lindung. Itu pun terbatas hanya di bagian luar saja dan harus didampingi oleh seorang ranger. Yah, agak kecewa sih tapi mau bagaimana lagi. Kami harus mengikuti aturan yang ada, jadi kami memutuskan untuk tetap menjelajahi hutan walaupun tidak boleh sampai ke hutan primernya.

Persiapan pun dimulai. Kami semua mengenakan sepatu karena tanahnya yang berair juga banyak lintah dan pacet yang siap mengisap darah kami. Setelah bergaya sebentar di pintu gerbang kami pun siap memasuki hutan didampingi Pak Jauri, seorang ranger yang sudah mengabdi di hutan lindung ini sejak tahun 1997.

 

Tapi baru saja memasuki areal hutan, si kecil Lentera sudah mulai menangis ketakutan karena suasana di dalam hutan mulai gelap diiringi suara riuh binatang serangga yang biasa disebut “Gareng”. Tapi lama kelamaan dia sudah terbiasa malah mulai menikmati penjelajahan ini.

 

Dan benar apa kata Pak Agus mengenai keanekaragaman hayati di hutan lindung. Di hutan lindung ini, walaupun baru sebatas hutan bagian luar kami sudah menemui pohon-pohon besar Bangkirai. Juga tanaman rotan yang menjulur sampai jauh. Kami juga menemukan tanaman semacam Gembili, tapi umbinya bukan di akar tapi menggantung di sulur yang melilit sebuah pohon.

 

Ada juga pohon Palem raksasa, Di bawahnya kami seperti manusia mini saja he..he….Juga sebuah tanaman sulur-suluran yang mampu melilit pohon besar mirip ular yang sedang melilit tubuh korbannya.

 

Kami juga menemukan pohon Pasak Bumi yang biasanya banyak dicari oleh bapak-bapak. Kalau Anda penasaran beginilah pohonnya. Pohonnya kecil, tapi lurus ke atas dengan daunnya yang sedikit saja.

 

Beberapa kali jalan setapak terpotong oleh pohon raksasa yang tumbang sampai akar-akarnya, membuat kami harus berjalan memutar. Kalau Anda melihat besarnya akarnya di gambar ini , silakan Anda membayangkan seberapa besar pohonnya.

 

Akhirnya sampailah kami di DAS Sungai Wain. Di sinilah beberapa tahun lalu ada seorang nenek yang tewas dimakan buaya. Beruntung kami ditemani oleh Pak Jauri yang sungguh sudah mengenal seluk beluk hutan ini sehingga kami merasa aman saat harus memilih jalan setapak di samping sungai.

 

Dan akhirnya sampailah kami di waduk Pertamina. Ada beberapa gazebo di sana tempat Anda melepas lelah sesaat. Kalau masih ada tenaga, Anda bisa menyeberangi sungai lalu melalui jembatan kayu sepanjang 150-an meter untuk memulai penjelajahan di wilayah hutan primer. Sayang, kami tidak memiliki ijin untuk memasukinya saat itu.

 

Di areal hutan ini, beberapa kali kami melihat sekelebatan monyet atau Bekantan di antara pepohonan. Tapi memang belum rejeki kami untuk melihatnya hari itu. Oh ya, pada bulan-bulan ini sedang musim berbuah seperti pohon Kecapi, Cempedak atau Durian Le. Jadi beberapa mamalia sedang berpesta buah di tengah hutan, itu yang membuat mereka tidak dijumpai di kawasan pinggiran hutan.

Akhirnya penjelajahan pun berakhir tepat jam 12 siang dengan matahari terik tepat di atas kepala. Anak-anak pun terpuaskan rasa penasarannya karena sudah menjelajahi hutan lindung Sungai Wain. Semoga mereka kelak tumbuh menjadi penjaga lingkungan hidup dan hutan yang ada. Kami bertekad suatu saat nanti kami akan kembali untuk menemukan beruang madu atau Orangutan besar yang kata Pak Agus pernah dijumpai sudah sebesar Kingkong. Kalau Kompasioner tertarik untuk ikut serta silakan kontak saya he..he…. dan kita bisa bicarakan rencananya nanti ya.

Beruntunglah kami sebagai warga Balikpapan, yang pemerintah kotanya sampai sekarang masih konsisten berkomitmen untuk tidak memberikan ijin pertambangan batubara di areal Balikpapan. Kalau Anda membaca laporan Kompas mengenai pertambangan batubara di Kalimantan Timur, Anda akan membaca bahwa di sini hanya Balikpapanlah yang masih berkomitmen tidak mengijinkan ada pertambangan batubara di sini. Dan itulah mengapa, kami masih bisa menemukan hutan alami yang masih asli dan nyaris belum tersentuh serakahnya species Homo Sapiens, macam kita-kita ini.

Referensi:

  1. Leaflet “Hutan Lindung Sungai Wain: Kebanggaan Kota Balikpapan”, Unit Pelaksana Badan Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain.
  2. Leaflet “Kebun Raya Balikpapan”, Pemkot Balikpapan.

 

Ilustrasi foto: Dokumen pribadi.

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 4 Maret 2010)

Oleh: balikpapannaa | Februari 14, 2010

PANTAI LAMARU

10 menit ke utara dari Pantai Wisata Manggar, Anda bisa mampir juga ke Pantai Lamaru. Memang belum ditata dengan baik sebagaimana Pantai Manggar, tapi orang-orang banyak yang mengunjunginya.

Jalan masuk ke areal pantai belum beraspal bagus, tapi kalau Anda punya hobi fotografi, jalan masuk Pantai lamaru cukup bagus untuk dijadikan obyek jepretan Anda.

Oleh: balikpapannaa | Februari 14, 2010

PANTAI WISATA MANGGAR

Memang tidak terlalu banyak pilihan tempat wisata di Balikpapan, mungkin itulah yang menyebabkan orang kurang bisa menikmati tinggal di Balikapapan, bila dibandingkan dengan Jawa misalnya.

Tapi hidup harus tetap berlanjut kalau Tuhan sudah tempatkan Anda di Balikpapan sini. Kalau Anda suka dengan pantai, di sini ada pantai wisata Manggar. Anda bisa mencapainya kira-kira 30 menit dari bandara Sepinggan ke arah utara.

Pantainya lumayan bersih dengan pasir putihnya, untuk tiket masuk juga tidak terlalu mahal untuk ukuran Anda yang tinggal dan kerja di Balikpapan. Sekedar sebagai referensi, berikut ini ada foto-fotonya.

Oleh: balikpapannaa | Februari 14, 2010

SELAMAT DATANG DI BALIKPAPAN

Apabila Anda keluar dari areal Bandara Sepinggan Balikpapan, Anda akan disambut dengan ini.

 

Di dalam areal bandara memang ada sebidang tanah yang ditanami kelapa sawit hias (tampak di foto atas bagian kanan) sehingga terlihat hijau. Lalu kalau Anda melewati gerbang Selamat Datang itu, Anda akan disambut dengan jalanan bersih 2 jalur dengan taman yang lumayan enak dipandang.

Selamat datang di Balikpapan.

Oleh: balikpapannaa | Februari 14, 2010

MENDARAT DI BANDARA SEPINGGAN

Bandar udara di Balikpapan bernama Sepinggan, sebuah bandar udara yang bermula dari sebuah landasan terbang yang dibangun oleh penjajah Belanda. Semula dimaksudkan sebagai salah satu fasilitas industri penyulingan minyak di Balikpapan lalu kemudian berkembang sebagai salah satu fasilitas untuk mobilitas pemerintahan dalam menjangkau daerah-daerah terpencil di Kalimantan Timur bagian utara dan sekarang sudah menjadi fasilitas umum negara yang dikelola oleh PT Angkasa Pura.

 

Dengan desain mengambil arsitektur sebuah lamin (rumah adat Dayak), bandara ini tampak sebagai sebuah rumah besar yang dipenuhi dengan lalu lalang orang. Sayang, pihak pengelola tidak terlalu sigap dalam mengantisipasi lonjakan penumpang dalam 5 tahun terakhir ini, sehingga dengan kapasitas sekarang ini bandara terasa penuh dengan orang sehingga terasa kurang nyaman.

Tapi sebagai penikmat seni dayak, Anda akan dipuaskan melihat motif sulur-suluran Dayak di setiap tiang besarnya.

 

Lumayan indah kan ??

Oleh: balikpapannaa | Oktober 1, 2009

FESTIVAL TAMAN BEKAPAI

Gonjang-ganjing isu klaim Malaysia atas tari Pendet, batik, keris, reog Ponorogo dan seni tradisi yang lain beberapa minggu yang lalu seharusnya menyadarkan kita bersama, entah pemerintah maupun masyarakat untuk kembali memperbaharui strategi berkebudayaan kita. Kita akui bahwa derap pembangunan ekonomi seringkali memunculkan efek samping yang menumpulkan cita, rasa dan karsa kita. Kita semakin bernafsu untuk mengumpulkan kekayaan sebesar mungkin, semakin menjadi individualis dan kita lupa bahwa ada kebutuhan batin yang harus dipenuhi, yaitu kebutuhan untuk berbudaya, untuk menampilkan ekspresi diri. Malaysia, kurang lebih juga menampilkan fenomena serupa. Mereka kaya secara fisik tapi miskin secara budaya sehingga tidak muncul kreatifitas yang dibangun atas ciri khas sendiri. Sebenarnya masalah seperti ini selalu diingatkan oleh para pendiri negara kita setiap kali kita menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, “bangunlah badannya…bangunlah jiwanya”.
Sekarang berbicara tentang isu lokal di Balikpapan. Disadari atau tidak Taman Bekapai sudah menjadi semacam ikon di Balikpapan, yang terus terang tidak saya jumpai di kota-kota lain yang pernah saya tinggali. Taman Bekapai menurut saya memang tidak hanya dirancang sebagai taman penghias kota saja, tapi juga menjalankan fungsi komunal, sebagai tempat di mana setiap warga bisa berkumpul bersama, bersenda gurau menikmati waktu dan kebersamaan. Kedua fungsi ini harus senantiasa dipelihara, tidak hanya oleh pemerintah kota tapi juga oleh masyarakat sendiri.
Lewat tulisan ini, saya ingin mengusulkan kepada pemerintah kota Balikpapan satu fungsi lagi untuk Taman Bekapai, yaitu sebagai fungsi budaya. Dengan arsitektur taman yang sedemikian indah, sebenarnya Taman Bekapai layak ditingkatkan fungsinya sebagai tempat bagi warga Balikpapan untuk menampilkan ekspresi kebudayaannya. Taman Bekapai bisa dijadikan semacam panggung tak resmi bagi setiap warga kota untuk berkesenian, untuk berkebudayaan.
Bayangkan, areal Taman bekapai sebagai panggung sudah lebih dari cukup, penonton juga sudah ada karena tempat ini selalu ramai dikunjungi warga, tempat juga cukup strategis karena ada di pusat keramaian, dekat dengan Mall dan juga hotel-hotel bintang 5 yang ramai dihuni oleh para warga asing. Tinggal menambahkan dengan adanya panitia atau komite (yang bisa terdiri dari unsur pemkot, kepolisian dan unsur masyarakat) juga aparat keamanan, lengkaplah sudah bagi kita untuk mengadakan Festival Taman Bekapai.
Untuk tahap pertama, Festival Taman Bekapai cukup diadakan sekali dalam seminggu, mungkin Jumat malam atau Sabtu malam. Bila festival ini mendapat respon semakin baik dari warga, bisa ditingkatkan frekuensinya. Lalu diusahakan saat festival lampu-lampu taman bisa dihidupkan, juga ditambahkan dengan sound system dengan volume suara yang tidak perlu setara dengan sebuah konser di stadion, cukup untuk menguasai areal taman.
Sebagai penampil kesenian kita bisa tampilkan secara swadana (artinya biaya yang muncul ditanggung sendiri oleh penampil, komite hanya menyediakan tempat, waktu dan fasilitas keamanan) berbagai macam kelompok kesenian di Balikpapan. Dalam daftar saya, kita bisa menampilkan musik dan tari dari masyarakat adat Dayak, tarian dan musik gamelan dari komunitas Jawa (baca: uyon-uyon), tarian dan musik tradisi dari komunitas Bali, tarian dan musik tradisi dari komunitas Bugis, tarian dan musik tradisi dari komunitas Banjar, kesenian reog dari komunitas Ponorogo atau Jawa Timur, kesenian Jaran Kepang, kesenian salawatan, kesenian kentrung, penampilan dari penyanyi jalanan dan penampilan dari klub sastra balikpapan semacam pembacaan cerpen atau puisi. Sesekali pemerintah kota bisa mengundang kesenian tari atau musik tradisi dari luar daerah seperti wayang kulit atau ludruk untuk memberikan variasi.
Terus terang sebagai penampil, Balikpapan sudah mempunyai lebih dari cukup. Di RT39 kelurahan Damai saja sudah ada kelompok kesenian Salawatan yang rutin berlatih setiap minggu. Lalu dari perusahaan Total saja kalau tidak salah ada klub gamelan, angklung dan paduan suara yang rajin berlatih dengan teratur. Belum lagi perusahaan sejenis yang lain, kantor-kantor dan juga sekolah-sekolah. Lebih dari cukup, tinggal niat baik dan semangat saja untuk tampil dalam festival ini.
Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam Festival Taman Bekapai ini, harus ada interaksi antara penampil dengan penonton. Festival ini bukan sekedar konser, tapi ajang penyadaran kebudayaan. Karena itu sebisa mungkin panggung harus menyatu dengan penonton dan ada sesi khusus untuk penonton memberikan pertanyaan, masukan dan apresiasi kepada penampil. Demikian pula penampil melalui juru bicaranya bisa berkesempatan untuk menanggapi, kalau perlu mengajak penonton untuk bermain bersama. Fungsi komunal pun tetap terjaga.
Balikpapan sebagai kota sudah bertumbuh sedemikian rupa seiring derasnya kedatangan para perantau seperti saya yang membawa adat, budaya dan kebiasaan sendiri yang kelak mungkin bisa merubah wajah dan kebiasaan baik kota Balikpapan. Mal-mal sudah banyak berdiri, tinggal menunggu waktu untuk merubah kebiasaan baik warga Balikpapan ke arah yang lebih konsumtif. Nah, kalau pemerintah kota lebih kreatif, kita arahkan energi warga Balikpapan ke arah yang lebih positif….salah satunya dengan ekspresi kebudayaan. Kita bisa duduk bersama untuk mewujudkan ide ini.

Osa Kurniawan Ilham.
Balikpapan, 18 September 2009.

Oleh: balikpapannaa | Agustus 6, 2009

LECUTAN ENERGI DARI SARANG LASKAR PELANGI

Gairah itu muncul saat membaca artikel di Kompas edisi Minggu tanggal 2 Agustus 2009 kemarin. Saya turut merasakan energi yang terlecut dari artikel yang menulis bahwa Pulau Belitung, yang sekarang orang mengenal sebagai sarang laskar pelangi, akhirnya sekarang mulai berbenah dengan ekonomi yang mulai menggeliat ditandai dengan dibangunnya infrastruktur serta meningkatnya jumlah wisatawan domestik maupun asing. Masyarakat juga mulai tersadar bahwa mereka sebenarnya masih memiliki energi terpendam yang kalau ditangani dan dikembangkan dengan tepat akan membuat mereka tidak lagi bergantung melulu kepada sumber daya yang mulai sekarat, yaitu pertambangan timbah. Terima kasih Kompas, atas artikel yang menggairahkan ini.

Semuanya bermula dari novel Laskar Pelangi yang mencatat angka penjualan tertinggi dilanjutkan dengan film Laskar Pelangi yang juga mencatat jumlah penonton tertinggi. Jika di dalam novelnya pembaca hanya bisa melihat dalam tataran imajinasi suasana dan keadaan Pulau Belitung seperti yang ditulis oleh Andrea Hirata dalam untaian kata-katanya yang menarik, maka di filmnya penonton bisa menyaksikan secara visual suasana Pulau Belitung. Pantainya yang indah dengan batu-batu karang besar dan pasir putih yang menawan. Lingkungan rusak bekas pertambangan timah. Juga suasana eksotik di mana budaya Melayu menyatu dengan budaya Tionghoa. Maka ketika film tersebut diputar di berbagai festival di penjuru dunia, tak terelakkan film tersebut bagaikan promosi gratis bagi Pulau Belitung.

Jika Kompas mencatat fenomena serupa dengan Wellington – Selandia Baru yang terangkat karena film Lord of The Ring atau Mumbai – India dengan film Slumdogs Millionare. Saya ingin menambahkan gejala serupa di Salzburg – Austria yang melekat dengan ingatan orang akan film Sound of Music. Ketika berada di Wina, saya memaksakan diri untuk mengikuti tour ke Salzburg walau harus mengorbankan 45 Euro dengan perjalanan hampir 2 jam Wina – Salzburg. Salzburg beruntung, kota ini sudah melahirkan Mozart, sang komponis unggulan dan juga Doppler, sang Fisikawan penemu efek Doppler. Tapi kota ini lebih terkenal karena Sound of Music. Bahkan ada paket tour dengan judul “Tour Sound of Music” yang menawarkan kunjungan ke berbagai lokasi yang berhubungan dengan film tersebut, entah taman, entah rumah besar milik Sang Baron ataupun gazebo indah yang ditampilkan di film. Dari pendamping wisata yang sangat ramah, saya mendapat penjelasan sisi fiksi dan sisi nyata dari film tersebut, juga fakta bahwa anak-anak muda di kota tersebut sebenarnya tidak terlalu nge-fans dengan film tersebut karena jalan ceritanya yang jadul. Tapi karena film tersebut membawa berkah bagi ekonomi Salzburg, mereka berusaha menonton, mengerti jalan ceritanya supaya ketika wisatawan datang bertanya mereka bisa bisa menjawabnya.

Sudah ada paket tour Laskar Pelangi di Belitung. Seperti mendompleng kesuksesan novel dan filmnya, tapi menurut saya sah-sah saja kalau merujuk kepada pengalaman kota Salzburg. Walaupun pasti ada sisi fiksi dan nyata di novel dan filmnya, orang tidak akan peduli lagi karena ada gairah untuk mengetahui dengan mata kepala sendiri bagaimana jalan cerita itu terbentuk di kota aslinya. Seandainyapun gairah ingin tahu itu sudah terpuaskan, toh mereka masih punya uang untuk menikmati segala yang ada di Belitung, entah pantainya, entah masyarakatnya.

Sekarang pintar-pintarnya pemerintah Belitung untuk mengelola momentum ini. Awal yang bagus saat infrastruktur mulai ditata, semoga berlanjut ke sarana-sarana yang lain. Kalau pemerintah lokal dan masyarakatnya cerdik, sebenarnya banyak hal bisa diangkat sebagai paket wisata termasuk paket wisata di bekas tambang timah itu, dengan mengajak wisatawan menambang timah misalnya. Lalu buatlah secara berkala festival budaya lokal dengan nama Festival Laskar Pelangi misalnya. Dalam festival itu pengunjung dan masyarakat lokal bisa menikmati aneka budaya lokal yang dibawakan oleh suku-suku yang tinggal di sana. Banyak lagi ide yang lain.

Tapi ada satu catatan terakhir dari saya. Jangan kemaruk !!
Mentang-mentang Belitung sedang ketiban berkah Laskar Pelangi, lalu hotel-hotel besar dibangun dimana-mana sehingga masyarakat menjadi terpinggirkan, kawasan rawa yang masih asli dipermak sedemikian rupa sehingga hilang originalitasnya maupun gaya hidup masyarakatnya mulai berubah sehingga tidak menampakkan keaslian sebagai sebuah pulau sebagaimana yang ditulis di novel dan ditampilkan di filmnya. Jangan kemaruk, tahu kapan harus berbenah, kapan harus menahan diri karena siapa tahu energi yang muncul sekarang tidak akan pernah kembali lagi. Moga-moga, saya juga memiliki kesempatan untuk berkunjung ke sarang Laskar Pelangi ini.
(Osa Kurniawan Ilham – Balikpapan, 3 Agustus 2009)

(Tulisan ini saya ambil dari artikel saya di www.kompasiana.com tanggal 3 Agustus 2009)

Oleh: balikpapannaa | Agustus 6, 2009

ANGGREK CHANGI YANG MEMBUAT SAYA BERDOSA

Setiap kali saya tiba di Changi Airport Singapura selepas dari pemeriksaan petugas kedatangan, hati saya selalu menantikan saat untuk segera tiba di ujung ban berjalan. Di ujung itu, di terminal 1 ;kalau saya tidak salah ingat; memang layaknya mall besar yang semuanya layak untuk dinikmati, paling tidak untuk dipandang. Toko buku, butik, toko elektronika, toko coklat dan segala macam aneka rupa yang saudara-saudariku dari Indonesia sangat menikmati sekali, tampak dari tas plastik di tangan mereka yang penuh dengan barang belanjaan.
Tapi bukan itu yang selalu saya nantikan saat tiba di Changi Airport. Juga bukan perempuan Singapura yang manis kelihatannya atau yang ramah saat menyapa pelanggan tapi judes saat di luar jam kerja. Terus terang bukan itu. Di sana mata saya selalu merindukan sebuah taman anggrek di tengah-tengah terminal yang begitu menawan dan layak dinikmati. Sebuah taman anggrek beraneka warna dengan kolam berisi ikan koi yang indah bak sebuah oase bagi saya yang tidak bisa menikmati wisata belanja di sana. Lihatlah betapa indahnya bunga anggrek di sana, ada yang berwarna ungu, putih, kuning, hijau muda. Tampaknya taman itu selalu berbunga dengan lebat setiap kali saya ke sana, sesuatu karya yang mungkin sederhana bagi orang lain tapi telah berhasil membuat saya mengagumi siapapun yang telah berusaha keras mengusahakan dan menampilkannya. Bagi saya, taman itu adalah hasil sebuah kombinasi dari rasa seni, teknologi budidaya, arsitektur interior, semangat memberikan pelayanan terbaik, kemauan kuat dan bisnis, tentu saja.
Tapi taman anggrek di Changi itu selalu menggoda saya untuk berbuat dosa, karena terus terang selalu timbul rasa iri di hati saya setiap kali di sana. Saya merasa iri, kenapa aneka macam bunga anggrek yang begitu indah itu tidak bisa saya dinikmati di setiap bandar udara di negara saya Indonesia. Di Bandara Cengkareng Jakarta, taman eksteriornya memang indah tapi hanya terlihat dari dalam terminal kedatangan dan ruang tunggu keberangkatan. Kalau saya keluar dari terminal kedatangan, yang tertangkap mata hanyalah deretan mobil di daerah parkir daripada jajaran pohon dengan taman yang indah. Begitu pula dengan taman interiornya, kurang menarik dan merangsang mata untuk menikmatinya walaupun sekarang saya bersyukur di ruang tunggu keberangkatan sudah mulai ada deretan panjang bunga anggrek yang sayang warna bunga yang dipilih (ungu keputih-putihan) tidak terlalu mencolok mata karena terlihat mirip dengan warna interior terminal. Di Terminal-3 malah masih terlihat tandus dan gersang walaupun desainnya menganut konsep eco-green. Saya menemui pemandangan yang sama saat saya di Bandar Udara Juanda Surabaya, Sam Ratulangi di Manado maupun Adisucipto di Yogyakarta. Lebih parah lagi di Bandar Udara Sepinggan Balikpapan, kota dimana saya tinggal. Taman eksteriornya terlalu sedikit, lalu tidak ada taman interior selain jajaran bunga anggrek yang ternyata kalau diamati adalah anggrek plastik, padahal dulu saya berpikir Kalimantan adalah surganya anggrek.
Sebenarnya hal yang serupa tidak hanya saya temui di bandara-bandara di negara saya sendiri. Saat saya di bandara Swarnabhumi – Bangkok, Charles de Gaulle – Paris, Fort de Worth – Dallas, Narita – Tokyo maupun bandara di Barcelona atau di Girona sekalipun saya menemukan pemandangan dan perasaan yang sama. Rasa kagum hanya muncul karena desain arsitekturnya yang megah, modern dan canggih, tidak lebih dari itu. Di sana saya tidak mendapatkan perasaan yang sama sebagaimana saat saya ada di taman anggrek Changi itu.
Pertanyaannya kenapa kita yang mengaku surganya bunga, surganya anggrek, tidak mampu menampilkan surga itu di bandar-bandar udara kita ? Seperti yang saya tulis di atas, kita bisa melakukan yang sama dengan bandara Changi bila kita juga memiliki rasa seni, teknologi budidaya, arsitektur interior, semangat memberikan pelayanan terbaik, kemauan kuat dan bisnis. Saya pikir kita memiliki modal itu semua, apanya yang kurang ? Niat dan kemauan kuat ? Mungkin. Butuh biaya yang besar ? mungkin ya. Tapi tidak masuk akal kalau Angkasa Pura selaku satu-satunya pengelola bandar udara di Indonesia tidak memiliki uang untuk membuat taman yang bisa menarik para pelanggannya untuk bisa berlama-lama menikmati suasana di sana.
Menurut saya, kalaupun tidak punya uang masih banyak jalan yang bisa dicoba oleh Angkasa Pura, asal ada niat dan kreativitas. Kenapa tidak mencobanya dengan menjalin kerjasama dengan IPB misalnya untuk membuat taman anggrek yang bisa selalu berbunga walupun di dalam ruangan. Atau kalau itu memberatkan, kenapa tidak mencoba untuk menyewa saja tanaman-tanaman dari para tukang taman yang banyak tersebar di seluruh kota. Kalau seandainya benar-benar tidak punya uang, kenapa tidak mencobanya dengan mengundang para pengusaha taman untuk bergantian mengadakan pameran bunga dan tanaman di areal dalam bandar udara. Bahkan kalau perlu mereka bisa membuat taman di areal dalam bandara (terutama di terminal kedatangan) dan sekaligus bisa menjual bunga atau tanaman kepada para pengunjung yang menginginkannya. Tidak perlu takut bandara akan jorok asal ditata, dirawat dan dikelola dengan profesional, malah Angkasa Pura bisa mendapatkan pemasukan ekstra dari “taman-taman” dalam ruangan ini. Saya membayangkan kelak akan banyak para penumpang yang keluar dari terminal kedatangan dengan membawa bunga atau sekedar tanaman untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh untuk keluarga atau kekasihnya, maupun sekedar untuk ditanam di rumahnya.Sebagai catatan terakhir untuk pengelola bandar udara di Indonesia, kita tidak mungkin akan bertarung dengan negara-negara lain untuk membuat bandara-bandara yang lebih megah, lebih modern dan lebih canggih karena bagaimanapun juga itu membutuhkan biaya yang jauh lebih besar. Tapi dengan sentuhan yang artistik, kreatif, inovatif seperti taman di Changi itu, percayalah bahwa uang dari para pelanggan tidak akan menjauhi anda.
(Tulisan ini saya ambil dari artikel saya di www.kompasiana.com tanggal1 Aug 2009)

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.